SuaraKaltim.id - Nelangsa warga Perumahan Bontang Permai, RT 07 Kelurahan Api-api ternyata sudah 19 tahun. Kawasan tersebut selalu menjadi langganan bencana banjir. Akibatnya, masyarakat setempat menjadi terbiasa. Namun, istilah terbiasa dirasakan karena terpaksa.
Sepanjang awal 2022 ini saja, sudah 3 kali genangan banjir menimpa perumahan yang diketahui memiliki 140 rumah. Ketua RT 07, Kelurahan Api-api, Sunarto pun memberikan tanggapan.
ia mengaku sudah sering kali melaporkan kondisi wilayahnya yang kerap diterjang banjir. Bahkan, setiap Musrembang tingkat kelurahan, ia selalu mengusulkan pembuatan sodetan yang bisa mengurai tumpahan air sungai jika meluap.
Namun, hingga 2022 ini keinginan tersebut belum terealisasi. Pasalnya, kalau banjir melanda, 90 persen rumah warga pasti terdampak.
"Sudah sering diusulkan. Tetapi belum ada aksi dari Pemkot setempat," katanya melansir dari KlikKaltim.com--Jaringan Suara.com, Selasa (1/2/2022).
Diketahui, RT 07 dihuni 163 Kepala Keluarga dan sekitar 630 warga. Ia melanjutkan, kebutuhan yang paling cepat ialah normalisasi saluran drainase. Bahkan, ada turap yang sudah mulai bergeser beberapa centimeter. Dan terlihat satu bagian sudah retak.
"Itu ada sudah turap yang bergeser. Bahkan retak beberapa centimeter," sambungnya.
Di tempat yang sama, warga RT 07 Sutarji yang sudah dua kali meninggikan rumahnya juga memberikan tanggapan. Uang yang dikeluarkan pun mencapai ratusan juta cuma untuk meninggikan rumah.
Namun sayang, dengan meninggikan rumah, ternyata tidak membuat tempat tinggalnya bebas dari banjir. Ia masih merasakan bencana tersebut.
Baca Juga: Sudah 17 Tahun Seadanya, Pondok Pesantren Darul Hijrah Wal Qurra' Kini Lebih Layak Karena Hal Ini
"Banyak sudah uang saya keluarkan untuk meninggikan rumah. Tetapi tetap aja masuk kalau banjir," terangnya.
Ia mengaku, sudah tidak mampu lagi untuk meninggikan rumah. Sebab untuk menimbun lagi harus merubah konstruksi atap rumah miliknya.
"Kalau mau di timbun lagi yah harus bongkar atap. Uang sudah tidak ada karena ongkosnya mahal," ungkapnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Bontang, Usman mengatakan, pada 2022 ini realisasi penurapan akan dilakukan. Namun sekala prioritas yang akan dikerjakan.
Untuk golongan prioritas, di Kelurahan Gunung Elai, Jalan Imam Bonjol hingga Perumahan Bontang Permai, Kelurahan Api-api. Anggaran yang digelontorkan ialah Rp 7,5 miliar. Nantinya penurapan itu dengan panjang sekira 350 meter.
"Tahun ini ada pembangunan turap. Semoga bisa terealisasi," tandasnya.
Berita Terkait
-
Gempar, Aminuddin Terjun dan Tenggelam Selama 14 Jam Karena Dapat Bisikan, Pas Timbul Auto Diboyong ke RS PKT
-
Viral Video Bocah Asik dan Lahap Banget Makan Mie di Tengah Banjir, Warganet: Urusan Perut Nomor 1
-
Banjir Jadi Momok Kota Peradaban, Andi Harun 'Lempar Batu' ke Pemkab Kukar: Dari Desa Badak Mekar dan Sungai Bawang
Terpopuler
- 5 Sepatu Skechers Max Cushioning yang Empuk untuk Jalan Kaki Jauh dan Olahraga
- 4 Parfum Aroma Teh di Alfamart yang Tahan Lama Sesuai Review, Harga Mulai Rp30 Ribuan
- Rekomendasi Produk Viva untuk Eksfoliasi Wajah, Mulai Rp12 Ribuan
- Usai Heboh, Pelindo Jasa Maritim Copot Silfester Matutina dari Komisaris Usai 5 Hari Menjabat
- Apakah Pertalite Akan Naik Harga 26 September 2026? Ini Kata Bahlil
Pilihan
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
-
Hukuman Lebih Ringan, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Vonis Nadiem Makarim 9 Tahun Penjara
Terkini
-
Potret Indonesia dari Dekat, BRI inFrame 2026 Rekam Kisah Ekonomi Kerakyatan
-
Danamon Travel Fair Hadir Kembali, Raih Promo Hemat hingga 70%
-
254 Penerbangan di Kalimantan Terganggu Akibat Kabut Asap Karhutla
-
Karhutla Kaltim: Hotspot Naik 2 Kali Lipat, Asap Berasal dari Kebakaran Lokal
-
Di Tengah Gaung Erau dan IKN, Guru Kukar Didorong Adaptif Terhadap Teknologi