SuaraKaltim.id - Seorang siswi SD 002 Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) berinisial MF terpaksa tak mengikuti ujian karena diusir oleh gurunya. Alasan gurunya mengusir lantaran MF tak memiliki HP dan seragam sekolah.
MF diusir pulang akibat telah setahun tak mengikuti pembelajaran daring maupun Pembelajaran Tatap Muka (PTM), saat duduk di bangku kelas 4.
"Saat itu saya ingin mengantarkan pensil. Karena saya ingat keponakan saya tidak punya pensil, saya ke sekolah, tapi saat disekolah dia (MF) sudah ditemukan relawan menangis di pinggir jalan," ungkap Wali Murid MF, Siti Munarwah kepada Suara.com, dikutip Senin (6/6/2022).
Manuwarah yang tak terima melihat kejadian yang dialami MF, bersama Tim TRC-PPA Kaltim langsung mempertanyakan soal pengusiran tersebut kepada pihak sekolah.
"Saya pikir dia ini berbohong, tapi setelah saya mendengar sendiri dari teman kelasnya bahwa keponakan saya di usir. Saya yang mendengar itu sangat sakit hati, karena MF ini sangat butuh kasih sayang orangtua," ucapnya.
Tak hanya itu, MF juga mengalami tindakan kekerasan hingga pembullyan dari teman kelasnya. MF bercerita bahwa dirinya di usir lalu di lempar kertas, serta tangan MF ditarik paksa oleh seorang guru olahraga di sekolahan itu.
"Dulu waktu kelas 3, dia sempat ikut pembelajaran online, namun saat kelas 4 HP dia rusak dan tidak bisa digunakan untuk mengikuti pembelajaran secara daring," jelasnya.
Saat memasuki awal pelajaran pada kelas 4 SD, Manuwarah mengaku juga sempat melakukan komunikasi kepada pihak sekolah terkait kondisi MF yang tidak memiliki HP dan seragam. Namun, tak ada satupun tanggapan dari pihak sekolah yang ia dapat.
"Saya sudah coba berusaha melaporkan keadaan Musdalifah yang tidak memiliki hp, dan mempertanyakan nasib keponakan saya saat bagi rapot kelas 4, tapi engak ada tanggapan. Saya kira kan guruny Musdalifah ini sibuk, jadi saya tunggu saja," bebernya.
Baca Juga: Mengenal Raja Jawa Tanpa Mahkota yang Lahirkan Soekarno, Semaun hingga Kartosuwiryo
"Tapi sampai setahun juga tida ada kabar, bahkan dari pihak sekolah juga tidak satupun yang datang kerumah menanyakan kondisi Musdalifah, hanya melalui teman kelasnya saja," sambungnya.
Dari hasil mediasi, wali murid MF meminta untuk keponakannya di pindah ke sekolah lain. Sekali lagi, dari pihak sekolah tidak pernah menganggap MF berada di kelas 4, melainkan masih berada di kelas 3.
"Harusnya kan kelas 4 naik ke kelas 5, tapi dari pihak sekolah hanya mengakui MF naik ke kelas 3 jika dia pindah sekolah, saya juga bingung penyampaian pihak sekolah berubah-ubah" ucapnya.
Manuwarah berharap, Musdalifah dapat bantuan untuk dapat melanjutkan pendidikan seperti anak-anak pada umumnya.
Kontributor : Apriskian Tauda Parulian
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Shio yang Tinggalkan Masa Sulit Mulai 5 November 2026, Siap Sambut Kebahagiaan
- 9 Sunscreen untuk Wanita Usia 50 Tahun ke Atas agar Kulit Awet Muda
- Viral Pendaki Ditandu Naik Gunung Merbabu, Biaya Capai Rp30 Juta
- Apa Bedanya Adidas Originals vs Adidas Performance? Kenali dari Logo dan Kegunaannya
- 4 Sepatu Jalan dengan Teknologi Penyangga Kaki Terbaik untuk Berjalan jauh
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa POM TNI, Soal Penyadapan Prabowo?
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
Aksi Mahasiswa di Kantor PLN Samarinda Ricuh, Polisi Kerahkan Water Cannon
-
Viral, Staf Pemprov Kaltim Joget saat Demo Mahasiswa Bakal Diperiksa Inspektorat
-
Karhutla Belum Reda, Pemprov Kaltim Siapkan Rp3 M untuk Dampak Kabut Asap
-
Kronologi Pembunuhan di Speedboat Samarinda, Jasad Diikatkan ke Batu dan Tiang Jembatan
-
Demo di Kaltim Memanas, Massa Lempar Sayuran Busuk ke Kantor Rudy Mas'ud