- Kasus meninggalnya siswa SMK Negeri 4 Samarinda menjadi tragedi kemanusiaan.
- Sang ibu, Ratnasari menceritakan awal mula anaknya menderita sakit pada kaki.
- Akibat sepatu kesempitan yang dipakai, sang anak mengalami pembengkakan.
SuaraKaltim.id - Kasus meninggalnya siswa SMK Negeri 4 Samarinda menuai perhatian banyak pihak. Insiden ini menjadi tragedi kemanusiaan di tengah ketidakmampuan perekonomian keluarga.
MRS (16) sebelumnya sakit karena terpaksa harus menggunakan sepatu sekolah yang sempit atau kekecilan. Dia mengalami pembengkakan pada punggung sebelum menghembuskan nafas terakhir.
"Hampir setengah bulan sakit, itu belum ada bengkak. Baru sekitar 20 hari kemudian muncul bengkak di bagian atas kaki," ujar ibu kandung almarhum, Ratnasari dikutip dari Kaltimtoday--jaringan Suara.com.
Keterbatasan ekonomi memaksa MRS tetap mengenakan sepatu sekolah ukuran 40 meski kakinya sudah berukuran 44. Hal ini memicu luka parah saat menjalani program magang di sebuah pusat perbelanjaan.
Ratnasari menyebut gejala awal berupa nyeri pada kaki yang kemudian menjalar hingga ke pinggang dan punggung.
Selama hampir dua pekan pertama, kondisi kaki MRS tidak menunjukkan pembengkakan. Tetapi, semakin memburuk dengan kaki membengkak.
Meski merasakan sakit, korban tetap menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk menjalani magang. Dalam aktivitas tersebut, korban lebih banyak berdiri dan hanya duduk saat waktu istirahat.
"Dia tidak banyak mengeluh. Nanti setelah pulang baru bilang kakinya sakit sekali," kata Ratnasari.
Sehari sebelum meninggal, kondisi kaki MRS membengkak. Penanganan awal yang dilakukan hanya berupa suntikan di sekitar tempat tinggalnya.
"Setelah disuntik, katanya sudah tidak sakit lagi," ungkap sang ibu.
Namun, kondisi MRS tidak bertahan lama hingga akhirnya meninggal dunia keesokan harinya.
Diketahui, tragedi menimpa MRS siswa kelas 2 SMKN 4 Samarinda, yang meninggal dunia akibat infeksi serius yang dipicu oleh sepatu sekolah yang sudah tak muat di kakinya.
Kenyataan pahit ini semakin miris karena keluarga korban dikabarkan tidak pernah terdaftar sebagai penerima bantuan sosial pemerintah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Murah Baterai 7000 mAh, Tahan hingga 2 Hari dengan Performa Kencang
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Rumah Sakit Baru di Samarinda Ini Siapkan Teknologi Baca DNA
-
BRI Dukung Penempatan Dana SAL, Perkuat Likuiditas dan Kredit Produktif
-
UNU Kaltim Bangun Kampus Berdampak Lewat Penguatan Publikasi Ilmiah
-
Bangunan Miring dan Plafon Pernah Runtuh, SDN 002 Anggana Butuh Perhatian Pemerintah
-
ASN di Samarinda Tewas Dalam Kamar Kosnya, Sempat Mengeluh Telepon Istri