- Mensos Saifullah Yusuf ikut menyoroti kasus meninggalnya siswa SMK di Samarinda.
- Saifullah menyinggung peran pemerintah daerah menjangkau kebutuhan anak sekolah.
- Siswa SMKN 4 Samarinda meninggal akibat infeksi serius yang dipicu sepatu sekolah.
SuaraKaltim.id - Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menyoroti tragedi kemanusiaan, menyusul kasus meninggalnya seorang siswa SMK di Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim).
Saifullah menekankan pentingnya penajaman data kemiskinan dan kerja sama pemerintah daerah guna mencegah kejadian terulang.
"Kata kuncinya adalah data dan kita perlu kerja sama dengan pemerintah daerah. Tidak mungkin Jakarta bisa menjangkau seluruh daerah di Indonesia tanpa kerja sama itu. Kita harus pastikan anak-anak dari keluarga yang memerlukan dukungan bisa kita jangkau," katanya dikutip dari Antara, Selasa (5/5/2026).
Berdasarkan informasi, insiden itu menimpa MRS (16), siswa kelas 2 SMKN 4 Samarinda, yang diduga meninggal dunia akibat infeksi serius yang dipicu oleh sepatu sekolah yang sudah tak muat di kakinya.
Keterbatasan ekonomi memaksa MRS tetap mengenakan sepatu ukuran 40 meski kakinya sudah berukuran 44.
Sepatu kekecilan itu diduga memicu luka parah saat menjalani program magang, sementara keluarga korban dilaporkan belum terdaftar sebagai penerima bantuan sosial pemerintah.
Menyikapi hal itu, Saifullah menjelaskan bahwa kementeriannya tengah memaksimalkan teknologi melalui aplikasi Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation (SIK-NG).
Aplikasi ini menghubungkan operator data dari tingkat desa hingga pusat, sebagaimana penugasan penginputan Data Tinggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Langkah tersebut didukung dengan pengerahan petugas dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kementerian Sosial di daerah untuk melakukan pengecekan lapangan atau ground check.
"Kalau misalnya kita ketahui sebelumnya dengan data yang ada, kita bisa melakukan intervensi ya. Jadi kita bisa mencegah adanya hal-hal yang memang menjadi bagian dari tugas kita untuk memberikan bantuan," tambahnya.
Selain itu, Saifullah juga menyoroti pentingnya kehadiran Pusat Kesejahteraan Sosial (Puskesos) di tingkat desa sebagai garda terdepan untuk menampung aspirasi dan keluhan warga kurang mampu, termasuk kasus-kasus mendesak seperti ijazah yang tertahan atau kebutuhan perlengkapan sekolah dasar.
Kementerian Sosial, menurut dia berkomitmen penuh untuk terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar kasus pengecualian data (eksklusi) seperti yang dialami keluarga MRS di Samarinda tidak kembali terjadi, sehingga perlindungan sosial dapat hadir secara menyeluruh bagi warga prasejahtera.
Berita Terkait
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Dana Ilegal Tidak Mengalir ke Perbankan, Kejati Sebut Kerugian Negara Rp1,4 Triliun Dikembalikan
-
Pertamax Naik, Dapat Pertalite di Kota Minyak Semakin Sulit
-
Salahgunakan Pemberian KUR, Delapan Ibu-ibu di Samarinda Diamankan Kejaksaan
-
Kini Hindari Wawancara, Gaya Komunikasi Gubernur Rudy Mas'ud Jadi Sorotan
-
Diskominfo Kaltim Soroti Media Lokal Abaikan Kode Etik Demi Viralitas