- Siswa SMK di Samarinda meninggal diduga karena sepatu sempit terus menuai perhatian.
- Kali ini Menteri PPPA, Arifah Fauzi turut merespons kasus meninggalnya MRS tersebut.
- Kementerian menelusuri permasalahan yang menyebabkan keluarga tak mendapat bansos.
SuaraKaltim.id - Kasus siswa SMK negeri di Samarinda meninggal diduga akibat sepatu sempit mendapat perhatian Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi baru-baru ini.
Arifah mengatakan kasus meninggalnya MRS, menjadi pengingat bahwa negara harus hadir memastikan setiap anak mendapatkan haknya, termasuk hak pendidikan layak dan aman.
"Kejadian ini menjadi perhatian serius dan karena itu perlu dievaluasi secara menyeluruh," katanya dikutip dari Antara, Senin (4/5/2026).
Arifah mengungkapkan, Kementerian/Lembaga perlu menelusuri akar permasalahan, mulai dari aspek administrasi kependudukan yang berpotensi menyebabkan keluarga tidak terdaftar dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), hingga kendala dalam akses terhadap program bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Program Indonesia Pintar (PIP).
"Kemen PPPA akan berkoordinasi dengan Kementerian/Lembaga terkait guna memastikan ketepatan sasaran program perlindungan sosial bagi anak," ujar Menteri.
Pihaknya menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya MRS.
"Kasus ini sangat menyayat hati, masih ada anak-anak Indonesia yang harus berjuang dalam keterbatasan demi memperoleh hak pendidikannya," ungkap Arifah.
Menurutnya, di tengah kondisi ekonomi keluarga yang memprihatinkan, MRS tetap menunjukkan semangat luar biasa untuk terus bersekolah.
"Semangat tersebut mencerminkan ketangguhan dalam mengejar cita-cita dengan berbagai keterbatasan meski akhirnya berakhir pilu," terang Arifah.
Sebelumnya MRS (16), siswa SMK Negeri di Samarinda mengeluhkan sakit pada kakinya karena sepatunya yang kekecilan.
Nyeri tersebut kemudian menjalar ke pinggang dan punggung. Kondisi MRS semakin memburuk yang terlihat dari kakinya yang membengkak.
Meski sakit, MRS tetap bersekolah dan menjalani magang di salah satu pusat perbelanjaan di Samarinda.
MRS merupakan anak dari keluarga kurang mampu. Pada Kamis (23/4/2026), kondisi korban semakin melemah dan tidak bisa beraktivitas normal.
Akhirnya korban menghembuskan nafas terakhirnya di rumah pada Jumat (24/4/2026).
Berita Terkait
Terpopuler
- Bagaimana Cara Cek NIK Terindikasi Judol atau Tidak? Begini Langkah Mudahnya
- Buruh di Jogja Geruduk Kantor Gubernur DIY, Tantang Sultan Buktikan Keistimewaan untuk Pekerja
- KPK Ungkap Riwayat Tanah Kavling Pesantren Darul Istiqamah Maros, Minta Hak Warga Dituntaskan
- Cegah Papua Jadi 'Sudan Kedua', Pemerintah Diminta Tarik Pendekatan Militeristik dan Buka Dialog
- 5 Eye Cream Kemasan Jar untuk Bikin Area Mata Tampak Cerah dan Awet Muda
Pilihan
-
WNI 18 Tahun Terancam Hukuman Mati di Malaysia: Ada Barbuk 25 Kg Sabu dan Heroin
-
Akhirnya Buka Suara Usai KPK Usut Korupsi di ATR/BPN, Ini Penjelasan Lengkap Nusron Wahid
-
Pria yang Tendang Perempuan di Senayan City Ditangkap Polisi!
-
Usut Dugaan Korupsi KSO Pertamina EP, Kejagung Geledah Kantor Setda hingga Bapenda Kota Bekasi
-
Mekkah Diserang Houthi, Kemlu Minta WNI Hati-hati di Arab Saudi
Terkini
-
BRI Salurkan KPP Rp12 Triliun Kepada 83.210 Debitur Hingga September 2026
-
BRI dan Komitmen Membangun Ekosistem Olahraga Indonesia yang Berkelanjutan
-
'Seperti Batang Kayu', Orang Utan Kerap Muncul di Jalan Poros Kutai Timur
-
33,8 Juta Debitur Dilayani, BRI Perkuat Peran dalam Holding UMi
-
BKSDA Kaltim Selidiki Kemunculan Orang Utan di Jalan Raya Bengalon Kutim