SuaraKaltim.id - Tim Pengendalian Inflasi Daerah Provinsi Kalimantan Timur (TPID Kaltim) rutin menggelar operasi pasar melalui SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) untuk mengendalikan laju inflasi, terbukti pada April dan Mei 2023 inflasi Kaltim tertahan masing-masing 0,42 dan 0,20 persen.
Hal itu disampaikan Wakil Ketua I TPID Provinsi Kaltim Ricky Perdana Gozali belum lama ini. Ia menjamin TPID Kaltim rutin melakukan SPHP di 2 kota.
"Dalam rangka menjamin keterjangkauan harga beras dan komoditas pangan lainnya, TPID Kaltim secara rutin melakukan SPHP di dua kota, yakni Samarinda dan Balikpapan," ujarnya, melansir dari ANTARA, Selasa (06/06/2023).
Ricky yang juga Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kaltim ini melanjutkan, untuk penguatan koordinasi dengan pusat, TPID Kaltim secara rutin mingguan mengikuti rapat koordinasi nasional pengendalian inflasi dengan Kemendagri, guna mensinergikan program antara TPIP dan TPID.
TPID, lanjut dia, secara aktif melakukan sinergi baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota dalam melakukan berbagai upaya seperti rutin melaksanakan sidak dan monitoring langsung ke lapangan untuk mengecek harga, produksi, dan distribusi kebutuhan bahan pangan, termasuk menjaga ketersediaan pangan.
"Ke depan, TPID Provinsi Kaltim akan selalu berkoordinasi guna menjaga inflasi agar tetap terkendali. Inflasi yang terkendali tentunya dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Kaltim menuju masyarakat yang lebih sejahtera," katanya.
Sedangkan untuk inflasi gabungan pada dua kota di Kaltim yang ditetapkan sebagai patokan indeks harga konsumen (IHK), yaitu Samarinda dan Balikpapan, inflasi Kaltim pada Mei 2023 lebih rendah ketimbang bulan sebelumnya.
"Secara bulan ke bulan, lanjutnya, inflasi Kaltim tercatat sebesar 0,20 persen, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,42 persen," ucapnya.
Adapun secara tahunan, inflasi Kaltim pada Mei 2023 tercatat sebesar 4,06 persen, juga lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar 4,46 persen (yoy).
Baca Juga: Alhamdulilah! BPS Umumkan Inflasi RI Makin Jinak
Berdasarkan kelompok pengeluarannya, andil inflasi terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang sebesar 1,31 persen, sedangkan kelompok transportasi mengalami deflasi.
"Peningkatan inflasi kelompok ini bersumber dari kenaikan harga beberapa komoditas pangan seperti ikan layang, bayam, daging ayam ras, dan kacang panjang," lugasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- 6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
- 5 Sunscreen untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas Sesuai Review dan Harga
- Media Italia Sebut Jay Idzes Masuk Radar PSG: Transfer Mewah untuk Sassuolo
Pilihan
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
Terkini
-
Strategi BRI Melejitkan Potensi Ekonomi Lokal Lewat UMKM Desa
-
Sakit Hati Sering Diolok-olok, Pegawai Bakar Ruang Rapat Diskominfo Kukar
-
Rumah Sakit Baru di Samarinda Ini Siapkan Teknologi Baca DNA
-
BRI Dukung Penempatan Dana SAL, Perkuat Likuiditas dan Kredit Produktif
-
UNU Kaltim Bangun Kampus Berdampak Lewat Penguatan Publikasi Ilmiah