Scroll untuk membaca artikel
Bella
Rabu, 03 Januari 2024 | 09:49 WIB
Kedaton Kutai Kartanegara. [Ist]

Sebutan ini terdapat pula dalam buku "Propinsi Kalimantan" terbitan Kementerian Penerangan RI tahun 1953.

Sayangnya, hal itu dibantah oleh C.A. Mees dalam bukunya "De Kroniek van Koetai" yang mengatakan tidak pernah koloni Hindu di Muara Kaman itu dinamakan Kutai.

Nama Kutai baru dikenal sejak kolonisasi Jawa pada abad XIV atau 14 di muara sungai Mahakam dan yang dimaksudkannya adalah Kerajaan Kutai Kertanegara.

Kemudian cerita bermula saat Kerajaan Kutai Kertanegara ini berada di bawah pemerintahan Raja Pangeran Sinum Panji Mendapa dalam abad XVII atau 17.

Baca Juga: BMKG: Jumlah Titik Panas Kaltim Turun Jadi 28

Ia memperluas wilayahnya ke pedalaman Mahakam Kerajaan yang berkedudukan di Muara Kaman itu untuk mempertahankan keutuhan wilayahnya, sehingga terjadilah peperangan besar antara kerajaan pesisir dan kerajaan pedalaman di Kalimantan Timur.

Kekalahan berada di pihak Kerajaan yang berada di pedalaman ini dan wilayahnya dimasukkan dalam kerajaan yang berpusat di muara Mahakam itu.

Akhirnya kekalahan itu membuat Rajanya menambah gelar dengan menamakan dirinya Pangeran Sinum Panji Mendapa ing Martapura.

Demikian pula raja-raja selanjutnya menambah gelar "ing Martapura" di belakang namanya.

Alhasil, drs. Anwar Soetoen dalam tulisan berjudul "Sejarah Singkat Pertumbuhan Pemerintahan Daerah Kabupaten Kutai" tidak memakai istilah Martapura akan tetapi Marta di Pura.

Baca Juga: 49 Titik Panas Baru di Kaltim, Masyarakat Diminta Waspada Karhutla

Ada kemungkinan hal itu untuk menjelaskan bahwa istilah itu terjadi dari 2 kata. Mengenai kata Ing berasal dari bahasa Kawi yang berarti "di" atau "dalam".

Load More