SuaraKaltim.id - Kerajaan Kutai Kertanegara adalah kerajaan di Pulau Kalimantan bagian timur yang berdiri pada 1300 Masehi.
Di masa itu, perkembangan kerajaan ini sangat pesat bahkan pada tahun 1635 Masehi, kerajaan ini berhasil menaklukan Kerajaan Kutai Martadipura.
Kala itu, Kerajaan Kutai Martadipura yang diperintah oleh Maharaja Dharma Setia berhasil ditaklukan dan nama kerajaan pun berganti menjadi Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura.
Sebelum menjadi kesultanan, Kerajaan Kutai Kartanegara ini mengalami perkembangan yang cukup pesat termasuk dengan bidang pendidikannya.
Namun, untuk membandingkan pendidikan di masa itu dengan masa sekarang tentu sangat jauh berbeda.
Pendidikan pada masa itu dilaksanakan dan dijalankan serta dengan materi yang sesuai dengan tuntutan pada saat itu.
Seyogyanya sebagai mahluk sosial, dan segala sesuatu yang menyangkut kehidupan sosial, manusia selalu berkembang dari zaman ke zaman, termasuk dalam hal pendidikan.
Berbeda dengan sekarang, pendidikan pada saat itu dilaksanakan dengan materi yang sebagian besar bersifat sakral dan penuh mitos.
Fokus dan arah pendidikan adalah kerajaan dengan segala aspeknya. Putra-putra raja, para bangsawan, para punggawa dan lain-lain staf keraton dididik dalam berbagai macam kesaktian dan ketrampilan dalam peperangan.
Di samping itu, tata-krama dan adat istiadat yang bersifat kraton-centris juga diajarkan kepada para penerus kerajaan itu.
Pendidiakan terhadap putra-putra Raja lebih-lebih Putra Mahkota dididik dengan baik, termasuk dalam hal adat istiadat mengatur kerajaan.
Menurut hikayat raja, Maharaja Sultan atau Aji Wirabayan bersama dengan menterinya Maharaja Sakti pernah belajar tentang tata pemerintahan kerajaan di Majapahit.
Adat serta tatakrama baik yang telah mereka undangkan di dalam kitab undang-undang maupun yang tidak tertulis, mereka pelihara
dan dipelajari secara turun temurun.
Untuk pendidikan rakyat biasa, kebanyakan daerah-daerah luar Kalimantan Timur, seperti di Jawa sekitar permulaan abad ke-18, telah ada usaha-usaha sadar untuk mendidik rakyat, terutama sekedar bekal bagi kepentingan penjajahan atau kerajaan itu sendiri.
Setelah berubah menjadi Kesultanan, pendidikan yang tersangkut paut dengan keagamaan memang jauh sebelumnya sudah pernah diberikan.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Toyota Bekas yang Mesinnya Bandel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Pajak Rp500 Ribuan, Tinggal Segini Harga Wuling Binguo Bekas
- 9 Sepatu Adidas yang Diskon di Foot Locker, Harga Turun Hingga 60 Persen
- 10 Promo Sepatu Nike, Adidas, New Balance, Puma, dan Asics di Foot Locker: Diskon hingga 65 Persen
- 5 Rekomendasi Sepatu Lari Kanky Murah tapi Berkualitas untuk Easy Run dan Aktivitas Harian
Pilihan
-
Petani Tembakau dan Rokok Lintingan: Siasat Bertahan di Tengah Macetnya Serapan Pabrik
-
Bos Bursa Mau Diganti, Purbaya: Tangkap Pelaku Goreng Saham, Nanti Saya Kasih Insentif!
-
Omon-omon Purbaya di BEI: IHSG Sentuh 10.000 Tahun Ini Bukan Mustahil!
-
Wajah Suram Kripto Awal 2026: Bitcoin Terjebak di Bawah $100.000 Akibat Aksi Jual Masif
-
Tahun Baru, Tarif Baru: Tol Bandara Soekarno-Hatta Naik Mulai 5 Januari 2026
Terkini
-
6 Mobil Bekas 50 Jutaan untuk Keluarga dengan Spek Gahar dan Nyaman
-
4 Mobil Kecil Bekas Murah yang Bandel dan Ekonomis, Pilihan Logis Keluarga Baru
-
5 Mobil 3 Baris Bekas 50 Jutaan: Muat hingga 8 Orang, Bikin Keluarga Tenang
-
5 Mobil LCGC Bekas 50 Jutaan Tahun Muda yang Mudah Dikendalikan
-
4 Motor Matic untuk Harian Anak Muda yang Keren dan Bertenaga