SuaraKaltim.id - Dalam peringatan 100 hari kepemimpinan Presiden dan Wakil Presiden RI, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming, komunitas Tumbuk Movement mengadakan diskusi terbuka yang melibatkan para pemuda Kalimantan Timur (Kaltim).
Acara ini menjadi ajang refleksi kritis terhadap kebijakan dan langkah awal pemerintahan yang berlangsung pada Jumat (17/01/2025) di Samarinda.
Diskusi yang diadakan di Wijaya Foodcourt, Jalan Juanda, ini menghadirkan tiga pembicara utama, yakni Suwardi Sagama, Direktur Pusat Studi Konstitusi Demokrasi dan Masyarakat; Prof. Aswin, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman; dan Rahmad Azazi, Founder Tirtonegoro Foundation.
Mereka memantik diskusi mengenai berbagai kebijakan kontroversial, mulai dari "Kabinet Super Gemuk," program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga isu deforestasi.
Kabinet Besar dan Beban Anggaran
Suwardi Sagama mengkritisi gemuknya kabinet Prabowo-Gibran yang melibatkan peningkatan jumlah menteri dan wakil menteri. Ia menilai langkah ini berpotensi membebani anggaran negara tanpa hasil yang signifikan.
"Gemuknya kabinet ini seperti obesitas yang berujung pada pemborosan," tegasnya, dikutip dari kaltimtoday.co--Jaringan Suara.com, Minggu (19/01/2025).
Makan Bergizi Gratis (MBG): Program yang Perlu Sinkronisasi
Program MBG, yang menyediakan makanan bergizi gratis untuk anak sekolah, juga menjadi sorotan. Suwardi menekankan bahwa upaya ini harus diimbangi dengan peningkatan kualitas pendidikan, termasuk perbaikan fasilitas sekolah dan kesejahteraan guru.
Baca Juga: Prabowo Berkantor di IKN pada 2028: Kesiapan Infrastruktur Jadi Kunci Utama
Deforestasi dan Perluasan Sawit
Sementara itu, Prof. Aswin menyoroti pernyataan kontroversial Prabowo Subianto yang menyebut deforestasi untuk perluasan perkebunan sawit tidak berbahaya.
Ia menegaskan bahwa tanaman sawit membutuhkan air dalam jumlah besar dan proses pengerjaannya berdampak serius terhadap lingkungan.
Prof. Aswin juga mengimbau pemerintah untuk memberikan ruang lebih besar kepada petani kecil melalui skema plasma yang transparan dan adil.
Diskusi ini menggambarkan semangat kritis pemuda Kaltim dalam mengawal kebijakan pemerintah. Kritik dan masukan yang disampaikan diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi kepemimpinan Prabowo-Gibran dalam membangun Indonesia yang lebih baik.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Pembagian Seragam Gratis Pemprov Kaltim Terlambat, Orangtua Terpaksa Beli Dulu
-
JPMorgan Berikan Validasi Atas BBRI, Kualitas Aset Membaik
-
Suara.com Audiensi dengan DPD RI Kaltim, Bahas Sinergi Publikasi dan Keterbukaan Informasi
-
KUR BRI Dukung Rosyidah Terus Kembangkan Usaha Olahan Hasil Laut di Indramayu
-
Strategi Dorong UMKM Desa Berkembang Melalui Peran Mantri BRI, Simak Kisah dari Sumatera Utara Ini