Scroll untuk membaca artikel
Denada S Putri
Rabu, 02 April 2025 | 16:36 WIB
Kegiatan salah satu posyandu di Kabupeten PPU. [ANTARA]

SuaraKaltim.id - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menekankan pentingnya penanganan stunting sebagai bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dalam menghadapi perkembangan Ibu Kota Nusantara (IKN) di wilayah tersebut.

Anggota DPRD PPU, Nanang Ali, dalam keterangannya di Penajam pada Rabu (02/04/2025), menegaskan bahwa "Penanganan stunting untuk tingkatkan kualitas SDM untuk hadapi pembangunan dan perkembangan Kota Nusantara."

Sebagai daerah yang berdekatan dan menjadi mitra IKN, menurutnya, Kabupaten PPU perlu menyiapkan SDM yang berkualitas guna mendukung perkembangan ibu kota baru Indonesia.

Dalam upaya menangani stunting, DPRD dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) PPU berkoordinasi dengan pemerintah pusat, dunia usaha, perguruan tinggi, serta masyarakat.

Baca Juga: Dana Desa Rp 29 Miliar, DPRD PPU Tekankan Pemanfaatan Maksimal

Salah satu bentuk partisipasi masyarakat dalam peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan keluarga adalah melalui pos pelayanan terpadu (posyandu), yang memiliki peran dalam mendeteksi dan mengatasi masalah stunting sejak dini.

"DPRD terus dukung dengan kebijakan anggaran penanganan stunting, bantuan juga diberikan melalui dana aspirasi anggota DPRD," ujar Nanang Ali. Saat ini, Pemkab PPU telah mencatat keberadaan 259 posyandu yang tersebar di berbagai wilayah.

Untuk memperkuat perannya, DPRD dan pemerintah kabupaten terus memberikan dukungan berupa pelatihan kader serta pemenuhan kebutuhan posyandu.

Upaya yang dilakukan Pemkab PPU telah berhasil menekan angka kekerdilan anak hingga 11,55 persen. Pada 2023, jumlah anak yang mengalami stunting tercatat sebanyak 1.290, dan hingga akhir 2024, angka tersebut menurun menjadi 1.141 balita.

Anggota DPRD Kabupaten PPU lainnya, Jon Kenedi, menambahkan bahwa "Posyandu berperan penting tangani stunting karena menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan dan gizi bagi ibu hamil dan balita."

Baca Juga: Ribuan Ikan Mati di Bontang, DPRD Pertanyakan Peran Pemerintah

Menurutnya, pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten terus menyalurkan bantuan kepada posyandu agar upaya penanganan stunting semakin optimal. Ia juga menegaskan bahwa masalah kekerdilan anak merupakan persoalan serius yang berdampak pada kualitas SDM generasi penerus, mengingat faktor penyebabnya sangat kompleks.

"Dan harus ditangani dari remaja putri, ibu hamil, hingga penanganan ibu terhadap anak," tutupnya.

Ilustrasi stunting. [Ist]

Stunting: Ancaman Serius bagi Masa Depan Anak Indonesia

Stunting masih menjadi permasalahan serius di Indonesia, terutama di daerah-daerah dengan tingkat kesejahteraan rendah.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, prevalensi stunting di Indonesia pada tahun 2023 masih berada di angka sekitar 21,6%, meskipun telah mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya.

Pemerintah menargetkan angka ini turun hingga 14% pada tahun 2024 sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Apa Itu Stunting?

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), yaitu sejak dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun.

Anak yang mengalami stunting memiliki tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan anak seusianya serta berisiko mengalami gangguan perkembangan kognitif yang dapat berdampak pada kemampuan belajar dan produktivitas di masa depan.

Penyebab Stunting

Beberapa faktor utama yang menyebabkan stunting meliputi:

  1. Asupan Gizi yang Tidak Cukup – Kurangnya nutrisi yang diperlukan selama kehamilan dan masa bayi.
  2. Infeksi Berulang – Anak yang sering sakit, terutama diare dan infeksi pernapasan, lebih rentan mengalami stunting.
  3. Sanitasi dan Kebersihan yang Buruk – Akses terhadap air bersih dan sanitasi yang buruk meningkatkan risiko infeksi yang dapat menghambat pertumbuhan anak.
  4. Pola Asuh yang Kurang Tepat – Kurangnya pemahaman orang tua tentang pentingnya gizi seimbang bagi anak.
  5. Faktor Sosial dan Ekonomi – Kemiskinan sering kali menjadi hambatan utama dalam pemenuhan kebutuhan gizi dan layanan kesehatan bagi ibu hamil dan anak.

Dampak Stunting

Stunting tidak hanya berdampak pada kondisi fisik anak, tetapi juga berpengaruh pada perkembangan otak dan kemampuan belajar.

Anak stunting berisiko memiliki kecerdasan yang lebih rendah dibandingkan anak dengan tumbuh kembang normal. Selain itu, mereka lebih rentan terhadap penyakit kronis di usia dewasa, seperti diabetes dan penyakit jantung.

Upaya Pencegahan Stunting

Pemerintah telah mengimplementasikan berbagai program untuk menekan angka stunting, antara lain:

  1. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi ibu hamil dan balita yang mengalami kekurangan gizi.
  2. Peningkatan akses terhadap layanan kesehatan, termasuk pemeriksaan kehamilan rutin dan imunisasi.
  3. Kampanye edukasi tentang gizi dan pola asuh anak yang baik melalui Posyandu dan Puskesmas.
  4. Program sanitasi dan akses air bersih untuk mengurangi risiko infeksi yang berkontribusi pada stunting.
  5. Bantuan sosial dan ekonomi bagi keluarga kurang mampu untuk memastikan mereka dapat memenuhi kebutuhan gizi anak.

Peran Masyarakat dalam Mengatasi Stunting

Selain peran pemerintah, masyarakat juga memiliki kontribusi besar dalam mengatasi stunting. Orang tua harus lebih sadar akan pentingnya gizi seimbang dan sanitasi yang baik.

Selain itu, keterlibatan komunitas dalam mendukung program kesehatan, seperti Posyandu, dapat membantu meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap permasalahan ini.

Stunting bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Oleh karena itu, kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak lainnya sangat diperlukan agar Indonesia dapat mencapai generasi yang lebih sehat dan berkualitas.

Load More