SuaraKaltim.id - Aktivitas tambang ilegal yang marak di Kalimantan Timur (Kaltim) terus menimbulkan ancaman serius, mulai dari kerusakan lingkungan hingga keselamatan warga.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim pun menegaskan komitmennya dengan membentuk Satuan Tugas (Satgas) khusus untuk menertibkan sedikitnya 108 titik pertambangan tanpa izin yang telah terdeteksi.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim, Bambang Arwanto, Sabtu, 30 Agustus 2025.
"Langkah itu merupakan tindak lanjut konkret atas arahan pemerintah pusat yang meminta pengawasan ketat terhadap seluruh aktivitas pertambangan ilegal, termasuk yang merambah kawasan hutan lindung," kata Bambang, disadur dari ANTARA, Minggu, 31 Agustus 2025.
Satgas tersebut diproyeksikan menjalankan tiga fungsi utama: pengawasan, pemantauan, serta memfasilitasi tindakan tegas terhadap praktik tambang yang merugikan negara dan merusak alam.
Namun, menurut Bambang, upaya pemberantasan tidaklah mudah.
Dari 108 titik yang dipetakan, ada lokasi aktif maupun tidak aktif.
Pelaku juga kerap menggunakan strategi "kucing-kucingan".
"Pola operasinya kerap berubah. Mereka sering berhenti sementara ketika ada pengawasan, lalu kembali beroperasi saat situasi dianggap aman. Kondisi ini membuat pemantauan menjadi tidak mudah dan memerlukan strategi khusus," ungkapnya.
Baca Juga: Penerimaan Pajak KaltimKaltara Rp 16,54 Triliun, Netto Tertekan 35,84 Persen
Dampak dari praktik tambang tanpa izin ini sangat luas, mulai dari perubahan bentang alam, pencemaran air, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga meninggalkan lubang berbahaya yang mengancam warga sekitar.
Selain itu, tidak adanya kewajiban reklamasi maupun standar keselamatan kerja membuat risiko korban jiwa semakin tinggi.
Sebagai bagian dari penertiban, Pemprov Kaltim membuka kanal pengaduan masyarakat.
Laporan yang masuk, kata Bambang, sudah ditindaklanjuti serius, bahkan beberapa kasus telah berujung pada proses hukum dan penangkapan pelaku.
Meski begitu, Bambang menekankan bahwa pemerintah daerah tidak bisa bertindak sendirian. Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Minerba, kewenangan penindakan pidana berada pada aparat penegak hukum (APH).
"Pasal 158 dalam UU Minerba menegaskan bahwa pertambangan tanpa izin adalah tindak pidana. Peran kami di daerah adalah melakukan pengawasan, pendataan, dan pelaporan. Eksekusi penindakan hukum tetap menjadi kewenangan APH," jelasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
37 Orang Diamankan Terkait Pencurian Kabel Telkom di Samarinda, 4 Ditetapkan Tersangka
-
Karhutla 20 Hektare di Samarinda, Api Tinggal 20 Meter dari Asrama Yonzipur
-
Karhutla Kaltim Tembus 9.500 Hektare dalam 3 Bulan, Kabut Asap Masih Mengancam
-
Karhutla Kalimantan: Polri Terjunkan 200 Brimob, 10 Anggota Bareskrim ke Kaltim-Kalteng
-
Sudah Terjadi Sejak 2009, Warga Berau Geram Pemadaman Listrik Kembali Berlanjut