SuaraKaltim.id - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Barat (Kubar), memperkuat komitmen terhadap pembangunan berwawasan lingkungan melalui pencegahan deforestasi dan reboisasi.
Langkah ini sejalan dengan target nasional penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 18,37 persen per tahun dan 26,67 persen secara kumulatif dari emisi dasar 2019.
Hal itu disampaikan Wakil Bupati Kubar, Nanang Andriani, di Barong Tongkok, Minggu, 31 Agustus 2025.
"Untuk mendukung program pemerintah dalam penurunan emisi ini, maka kami melakukan pendekatan multi sektor, seperti dengan pendekatan berbasis energi, kehutanan, pertanian, industri, dan pengelolaan limbah," ujar Nanang, disadur dari ANTARA.
Nanang menjelaskan, sektor kehutanan dan lahan tetap menjadi prioritas melalui upaya pencegahan deforestasi, reboisasi, dan rehabilitasi.
Pada saat yang sama, sektor energi diarahkan menuju pemanfaatan energi terbarukan dan efisiensi energi.
Di bidang pertanian, Pemkab Kubar melibatkan berbagai pihak untuk menerapkan praktik ramah lingkungan.
Sedangkan sektor transportasi dan pengelolaan limbah terus dicari terobosan guna menekan laju emisi.
"Penurunan emisi gas rumah kaca bukan hanya tugas pemerintah, bukan hanya tugas pihak tertentu, melainkan tanggung jawab kolektif semua komponen. Untuk itu, diperlukan sinergi seluruh perangkat daerah, dunia usaha, akademisi, masyarakat sipil, dan seluruh elemen masyarakat," tegas Nanang.
Baca Juga: Langkah Strategis Sambut IKN, PPU Kirim 11 Pelajar Kuliah ke Bali dengan Beasiswa Penuh
Keseriusan tersebut mendapat pengakuan internasional.
Tahun 2024, daerah yang masuk penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) ini menerima alokasi dana karbon Rp 16,33 miliar dari program Forest Carbon Partnership Facility (FCPF), berkat kontribusi 81 kampung yang berhasil menekan emisi di sektor pangan, penggunaan lahan, dan restorasi (Folur).
Nanang optimistis, keberhasilan ini menjadi modal besar bagi Kubar untuk tampil sebagai contoh nyata pembangunan hijau di Indonesia.
"Saya juga mengimbau semua pihak menjadikan Kubar sebagai pionir pembangunan berwawasan lingkungan. Kita harus buktikan bahwa pembangunan ekonomi dapat berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- KBRI Kuala Lumpur Digeruduk, Warga Malaysia Desak Prabowo Buka Nama Perusahaan Terlibat Karhutla
- Gunung Anak Krakatau Meletus Abu Membubung 15 Km, BMKG Jepang Pantau Ancaman Tsunami
- Daftar Shio yang Paling Berpotensi Jadi Pengusaha Sukses
- Harga Sepatu Skechers Original, Cek 5 Pilihan Terbaik untuk Jalan dan Lari
- 5 Manfaat Air Mawar untuk Wajah dan Kulit yang Menarik Diketahui
Pilihan
-
Warga Serbu Pasar Asemka Cari Masker, Pedagang: Stok KF95 Kosong Sejak Kemarin!
-
Siswa TK sampai SMA di Jakarta dan Tangerang Raya PJJ Sampai Rabu 9 September
-
Episode Erupsi Gunung Anak Krakatau Berakhir, Kata Badan Geologi
-
Abu Vulkanik Krakatau Meningkat, Operasional Bandara Soetta Berhenti hingga Pukul 6 Sore
-
Kedutaan Besar Negara Asing Keluarkan Peringatan untuk Warganya Pasca Erupsi Anak Krakatau
Terkini
-
BRI Dorong Financial Growth Mindset Bagi Masa Depan Generasi Muda
-
Erupsi Anak Krakatau Bikin Penerbangan di Bandara Samarinda Dibatalkan
-
Kasus ISPA di Samarinda Melonjak Imbas Kabut Asap Karhutla
-
Orang Utan Kalimantan Ditemukan Lemah Akibat Asap Karhutla Akhirnya Mati
-
BKSDA Kaltim Evakuasi 11 Orang Utan dari Ancaman Karhutla Samboja