- TKD Terpangkas Rp 650 Triliun, Ekonom Unmul Ingatkan Kaltim Harus Lebih Mandiri
- Naik Status Jadi PPPK Paruh Waktu, 1.433 TKD Bontang Gaji Tetap UMK
- TKD Prabowo-Gibran Kaltim Mantapkan Langkah, Optimis Menang di Bontang
SuaraKaltim.id - Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa porsi belanja pemerintah untuk daerah sejatinya meningkat, meskipun Transfer ke Daerah (TKD) dalam RAPBN 2026 terlihat lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.
Menurut Purbaya, sebagian dana pembangunan daerah kini dialirkan melalui belanja kementerian/lembaga (K/L) dengan pola tugas perbantuan.
Alokasinya pun naik signifikan, dari Rp 900 triliun pada tahun lalu menjadi Rp 1.367 triliun di tahun depan.
“Tugas perbantuan namanya. Itu totalnya mencapai Rp1.367 triliun. Nah tahun lalu hanya Rp900 triliun. Sekarang Rp 1.367 triliun. Jadi naiknya Rp400 triliun, sebetulnya secara total (penyaluran) di daerah enggak berkurang,” jelas Purbaya saat konferensi pers usai Rapat Paripurna DPR RI di Jakarta, Selasa, 23 September 2025, disadur dari ANTARA.
Ia menjelaskan, berbeda dengan TKD yang langsung masuk ke kas daerah, skema tugas perbantuan merupakan dana pusat yang dikelola oleh K/L untuk melaksanakan program tertentu di wilayah daerah.
Namun, Purbaya tidak menutup mata bahwa pergeseran skema ini bisa membawa tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah dalam menjalankan pembangunan.
“Cuman kan tetap saja ketika pemerintah daerah susah menjalankan program, ya mereka agak terganggu seperti kemarin. Tapi secara manfaat tidak kita kurangi. Yang saya lakukan ke depan adalah memastikan Rp 1.367 triliun tadi betul-betul dibelanjakan tepat waktu. Jadi kita tidak melupakan ekonomi daerah,” tegasnya.
Sementara itu, pemerintah bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR RI juga telah menyetujui kenaikan alokasi TKD menjadi Rp 692,99 triliun dalam RAPBN 2026.
Angka ini bertambah Rp 43 triliun dari rancangan awal sebesar Rp 649,9 triliun.
Baca Juga: TKD Kaltim Terpangkas 50 Persen, Program GratisPol Terancam Goyah
Secara keseluruhan, postur APBN 2026 ditetapkan dengan pendapatan negara Rp 3.153,58 triliun, belanja Rp 3.842,72 triliun, keseimbangan primer Rp 89,71 triliun, dan defisit Rp 698,15 triliun atau 2,68 persen terhadap PDB.
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
Terkini
-
Strategi BRI Melejitkan Potensi Ekonomi Lokal Lewat UMKM Desa
-
Sakit Hati Sering Diolok-olok, Pegawai Bakar Ruang Rapat Diskominfo Kukar
-
Rumah Sakit Baru di Samarinda Ini Siapkan Teknologi Baca DNA
-
BRI Dukung Penempatan Dana SAL, Perkuat Likuiditas dan Kredit Produktif
-
UNU Kaltim Bangun Kampus Berdampak Lewat Penguatan Publikasi Ilmiah