-
Ruang digital sebagai medan juang baru – Miftahul Ulum menilai generasi muda kini menghadapi tantangan di dunia digital, termasuk metaverse, AI, dan algoritma, yang membentuk pola pikir, kebiasaan, dan pandangan masyarakat.
-
Potensi dan risiko era digital – Generasi muda dapat menjadi inovator global, tetapi teknologi juga berisiko mengikis empati, memicu isolasi ideologis, dan membuka peluang masuknya propaganda ekstrem.
-
Pentingnya ketahanan ideologi dan siber – Pemerintah perlu memperkuat ketahanan ideologi dan siber, termasuk melalui “kecerdasan imitasi”, untuk mencegah radikalisasi dan risiko di dunia maya.
SuaraKaltim.id - Pengamat keamanan siber sekaligus politik internasional Miftahul Ulum menilai bahwa tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan lagi berada di medan perang fisik, melainkan di ruang digital yang tak terlihat namun sangat memengaruhi pola pikir dan perilaku manusia.
Ia menyebut dunia metaverse, kecerdasan buatan (AI), dan algoritma kini menjadi “medan juang” baru bagi generasi muda Indonesia.
Ketiganya, kata dia, memiliki kekuatan besar dalam membentuk kebiasaan, mempolarisasi pandangan, dan mengarahkan cara berpikir masyarakat.
“Beberapa dekade belakangan, bersosialisasi secara fisik itu terdisrupsi oleh media sosial. Lalu sekarang media sosial terdisrupsi oleh metaverse,” kata Miftahul di Jakarta, dikutip dari ANTARA, Selasa, 28 Oktober 2025.
Miftahul menjelaskan, perubahan akibat disrupsi teknologi dan budaya bukan hal baru dalam sejarah manusia.
Ia mencontohkan masa Plato, ketika peradaban bergeser dari budaya tutur ke budaya tulis—sebuah perubahan yang kala itu menimbulkan dinamika sosial besar, namun juga membuka peluang baru bagi kemajuan.
Menurutnya, era digital membawa potensi luar biasa bagi generasi muda, khususnya Gen Z dan Gen Alpha.
Mereka bisa berkembang menjadi global citizen creator — bukan sekadar pengguna teknologi, tetapi inovator, pencipta solusi, serta penggerak perubahan lintas batas.
“Mereka dapat membekali dirinya dengan pelajaran, keterampilan secara mandiri dan juga membangun komunitas untuk berbagi nilai kebaikan kepada masyarakat dan lingkungan,” katanya.
Baca Juga: Samarinda Menuju Kota Digital: Internet Stabil Jadi Kebutuhan Warga
Meski begitu, Miftahul mengingatkan bahwa di balik kemudahan teknologi, ada risiko serius bagi hubungan antarmanusia.
Dunia digital yang serba instan berpotensi mengikis empati, rasa memiliki, dan kemampuan memahami emosi orang lain.
“Algoritma itu akan cenderung mengisolasi kita dengan yang dekat (serupa), sehingga terisolasi secara ideologis,” kata Ketua Program Studi Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) itu.
Fenomena isolasi digital ini, lanjutnya, menjadi celah bagi masuknya propaganda ekstrem dan narasi kekerasan.
Ia menyoroti ruang virtual seperti gim berbasis metaverse yang kini bisa menjadi lahan baru radikalisasi generasi muda.
Karena itu, Miftahul menekankan pentingnya ketahanan ideologi dan siber nasional.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Angin Kencang Hari Ini Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia? Simak Penjelasan BMKG
- 4 Pilihan HP OPPO 5G Terbaik 2026 dengan RAM Besar dan Kamera Berkualitas
- 57 Kode Redeem FF Terbaru 25 Januari 2026: Ada Skin Tinju Jujutsu & Scar Shadow
- 6 HP Murah RAM Besar Rp1 Jutaan, Spek Tinggi untuk Foto dan Edit Video Tanpa Lag
- Bojan Hodak Beberkan Posisi Pemain Baru Persib Bandung
Pilihan
-
Kenaikan Harga Emas yang Bikin Cemas
-
Sah! Komisi XI DPR Pilih Keponakan Prabowo Jadi Deputi Gubernur BI
-
Hasil Akhir ASEAN Para Games 2025: Raih 135 Emas, Indonesia Kunci Posisi Runner-up
-
5 Rekomendasi HP 5G Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan!
-
Promo Suuegeerr Alfamart Jelang Ramadan: Tebus Minuman Segar Cuma Rp2.500
Terkini
-
5 Mobil Kecil Bekas 50 Jutaan yang Stylish dan Ekonomis buat Anak Muda
-
6 Mobil Bekas 50 Jutaan, Bodi Mungil Cocok untuk Pemula dan Mahasiswa
-
Pria di Samarinda Nekat Menyusup ke Kamar, Lecehkan Remaja Putri
-
5 City Car Bekas 60 Jutaan Bukan Toyota atau Daihatsu: Sporty, Performa Juara!
-
4 Mobil Suzuki Bekas di Bawah 50 Juta yang Fungsional untuk Jangka Panjang