- Ratusan penonton memadati studio XXI Samarinda Square.
- Kehadiran mereka untuk menonton Film Patah Hati yang Kupilih.
- Film ini menceritakan keyakinan, keluarga, dan tanggung jawab.
Keseriusan tersebut mulai terbentuk saat Jeha menempuh pendidikan di jurusan film di Tangerang. Dari sana, ia mengenal dunia industri secara langsung dan mulai membangun pengalaman profesional.
Selepas lulus, Jeha sempat bergabung sebagai tim kreatif naskah sinetron sebelum akhirnya memutuskan fokus ke film layar lebar.
"Jadi, mereka produksi sinetron dan aku tuh tim kreatif untuk naskah sinetron di sana. Nah, sampai suatu ketika aku ngerasa aku pengen pindah ke film gitu," bebernya.
Pengalaman tersebut membentuk perspektif Jeha dalam menulis cerita yang ditujukan untuk audiens luas. Ia menyadari bahwa film komersial menuntut keseimbangan antara sudut pandang personal dan keterbacaan konflik bagi penonton.
"Aku enggak cuma ngelihat sesuatu dari versi aku aja, tapi harus mikir audiensnya gimana. Ceritanya nyampe enggak, konfliknya kebaca enggak," katanya.
Tema cinta beda keyakinan dalam film ini berangkat dari kisah nyata di lingkungan terdekat tim kreatif. Jeha menyebut cerita tersebut terinspirasi dari pengalaman seseorang yang menjalani hubungan lintas agama dalam waktu lama, namun tidak berujung pada pernikahan.
"Ceritanya kena banget karena dia benar benar secinta itu tapi enggak bisa berjodoh," ujarnya.
Dari pengalaman tersebut, konflik film kemudian dikembangkan lebih luas. Menurut Jeha, isu agama hanyalah salah satu lapisan dari cerita yang juga menyentuh perbedaan latar belakang, tekanan keluarga, dan realitas sosial.
"Kita ngerasa ini bukan cuma soal agama, tapi soal dua dunia yang berbeda," ungkap dia.
Proses penulisan skenario memakan waktu sekitar empat bulan dan melibatkan riset mendalam. Tim penulis berdiskusi dengan berbagai pihak yang memiliki pengalaman serupa untuk memperkaya sudut pandang cerita.
"Kita ngobrol soal beda agama, soal jadi ibu di usia muda, soal mendidik anak tanpa figur bapak, termasuk dari sisi psikologisnya," jelasnya.
Judul Patah Hati yang Kupilih merepresentasikan inti cerita: keputusan sadar untuk mengambil jalan hidup yang menyakitkan namun dianggap paling bertanggung jawab. Kata "dipilih" menjadi penegasan bahwa setiap tokoh memahami risiko dari pilihannya.
Jeha berharap film ini bisa menjadi ruang refleksi bagi penonton dalam memandang cinta dan kehidupan secara lebih realistis.
"Semoga siapa pun yang nonton bisa merefleksikan apa pun yang ada di hidup mereka. Enggak harus relate untuk bisa meresapi film ini. Pada akhirnya kita harus memilih yang paling bijak dan realistis," pungkasnya.
Kontributor: Giovanni Gilbert
Berita Terkait
Terpopuler
- Demi Ketenangan Almarhum, Orang Tua Affan Kurniawan Mohon Tak Ada Peringatan Setahun Kematian
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 12 Ikan Hias Pembawa Keberuntungan Menurut Feng Shui, Cocok untuk Akuarium di Rumah
- Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Kevin Diks Tegas Sistem Empat Bek Lebih Cocok
- Mau Terlihat Lebih Muda? Ini 5 Pilihan Warna Lipstik yang Bisa Dicoba
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Strategi BRI Melejitkan Potensi Ekonomi Lokal Lewat UMKM Desa
-
Sakit Hati Sering Diolok-olok, Pegawai Bakar Ruang Rapat Diskominfo Kukar
-
Rumah Sakit Baru di Samarinda Ini Siapkan Teknologi Baca DNA
-
BRI Dukung Penempatan Dana SAL, Perkuat Likuiditas dan Kredit Produktif
-
UNU Kaltim Bangun Kampus Berdampak Lewat Penguatan Publikasi Ilmiah