- Mahasiswa penerima Beasiswa Gratispol mendapat kabar status mereka dibatalkan.
- Pencabutan status beasiswa yang disampaikan belakangan menjadi permasalahan serius.
- Pembatalan beasiswa tersebut juga berdampak pada kondisi psikologis mahasiswa.
Ade juga menyampaikan latar belakang pribadi yang membuat pembatalan beasiswa semakin berdampak. Ia menyebut dirinya sebagai anak yatim dan menjadikan pendidikan sebagai tumpuan utama untuk masa depan.
"Kami telah memberi tahu orang tua, menyusun rencana pendidikan, dan banyak dari kami adalah kelas eksekutif yang bekerja sambil kuliah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Secara pribadi, saya juga ingin menyampaikan bahwa saya yatim, dan pendidikan ini adalah harapan besar bagi masa depan saya," ungkapnya.
Selain menyampaikan dampak yang dirasakan, Ade mengajukan sejumlah pertanyaan kepada pihak terkait mengenai proses dan dasar pembatalan.
Ia mempertanyakan mengapa keputusan pencabutan status baru disampaikan setelah mahasiswa menjalani perkuliahan selama satu semester penuh.
"Mengapa pembatalan baru disampaikan setelah kami menjalani satu semester?" tanya Ade.
Ia juga menyoroti proses verifikasi penerima beasiswa yang dinilai tidak diselesaikan sejak awal.
Menurut Ade, apabila terdapat ketidaksesuaian data atau masalah administratif, seharusnya hal itu diketahui sebelum pengumuman kelulusan beasiswa.
"Mengapa verifikasi dan cross-check tidak diselesaikan sejak awal sebelum kami dinyatakan lolos?" lanjutnya.
Pertanyaan lain yang diajukan berkaitan dengan tanggung jawab atas biaya yang telah dikeluarkan mahasiswa.
Ade meminta kejelasan mengenai pihak yang bertanggung jawab atas kerugian finansial yang timbul akibat keputusan pembatalan tersebut.
"Siapa yang bertanggung jawab atas biaya dan kerugian yang telah kami keluarkan berdasarkan status kelulusan tersebut?" katanya.
Dalam pernyataannya, Ade menegaskan bahwa mahasiswa tidak menuntut keistimewaan. Ia menyebut mahasiswa hanya meminta kepastian dan keadilan atas hak pendidikan yang telah diumumkan secara resmi.
Ade juga menekankan bahwa apabila terjadi kesalahan administratif di tingkat penyelenggara, maka dampaknya tidak seharusnya dibebankan kepada mahasiswa sebagai penerima.
"Kami tidak meminta perlakuan khusus. Kami hanya memohon keadilan dan kepastian hak, karena kami telah mengikuti seluruh prosedur dan dinyatakan lolos secara resmi. Jika terjadi kesalahan administrasi di pihak penyelenggara, maka sangat tidak adil apabila dampaknya dibebankan kepada mahasiswa," tegasnya.
Pembatalan Beasiswa Gratispol setelah perkuliahan berjalan menciptakan situasi tidak pasti bagi mahasiswa penerima.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Karhutla 20 Hektare di Samarinda, Api Tinggal 20 Meter dari Asrama Yonzipur
-
Karhutla Kaltim Tembus 9.500 Hektare dalam 3 Bulan, Kabut Asap Masih Mengancam
-
Karhutla Kalimantan: Polri Terjunkan 200 Brimob, 10 Anggota Bareskrim ke Kaltim-Kalteng
-
Sudah Terjadi Sejak 2009, Warga Berau Geram Pemadaman Listrik Kembali Berlanjut
-
Kebakaran Lahan di Tol Samarinda-Balikpapan, Petugas Terkendala Pasokan Air