Eko Faizin
Selasa, 07 April 2026 | 17:52 WIB
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). [ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/bar]
Baca 10 detik
  • BPBD Kaltim membuat strategi Pagar Betis mengantisipasi karhutla di lingkar IKN.
  • Lima daerah penyangga telah sepakat untuk turun tangan membantu pemadaman.
  • Daerah itu Balikpapan, Penajam Paser Utara, Kutai Kartanegara, Paser, dan Kutai Barat.

SuaraKaltim.id - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalimantan Timur (BPBD Kaltim) mengantisipasi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN).

Kepala BPBD Kaltim Buyung Budi Purnomo menyatakan pihaknya menerapkan strategi pengamanan berlapis yang disebut Pagar Betis dalam penanggulangan karhutla.

"Lima daerah penyangga telah sepakat untuk turun tangan membantu pemadaman jika terjadi kebakaran di kawasan IKN sebagai bentuk implementasi strategi Pagar Betis," ujarnya dikutip dari Antara, Selasa (7/4/2026).

Lima daerah penyangga yang masuk dalam barisan perlindungan tersebut meliputi wilayah Balikpapan, Penajam Paser Utara, Kutai Kartanegara, Paser, dan Kutai Barat.

"Kesepakatan ini merupakan hasil tindak lanjut dari rapat koordinasi lintas instansi yang telah diselenggarakan di Ops Room BPBD Kaltim pada pekan lalu," kata Buyung.

Menurut dia, langkah antisipasi ini diambil untuk menyikapi prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai ancaman musim kemarau ekstrem.

Berdasarkan data tersebut wilayah IKN diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada pertengahan Juni hingga Juli 2026 dengan puncak kekeringan pada bulan Agustus.

Sifat curah hujan pada tahun ini, lanjut Buyung, diprediksi masuk dalam kategori bawah normal yang berarti kondisi lahan akan menjadi sangat kering dan sangat mudah terbakar.

"Pemerintah telah memetakan Kecamatan Sepaku dan Samboja Barat, termasuk seluruh area Tahura Bukit Soeharto, sebagai wilayah atensi khusus yang paling rawan bencana," sebut dia.

Disampaikan Buyung, tingkat kerawanan itu dipicu oleh dominasi kawasan hutan lahan kering serta aktivitas pembukaan lahan oleh manusia.

Guna mempercepat penanganan di lapangan, lanjutnya, pemerintah juga memaksimalkan fungsi Command Center Nusantara untuk memantau keberadaan titik api melalui satelit secara waktu nyata.

"Langkah modifikasi cuaca berupa pembuatan hujan buatan juga siap diterapkan apabila tingkat kekeringan di kawasan IKN sudah memasuki fase kritis," kata Buyung.

Selain itu pemerintah menyiapkan sistem peringatan dini melalui pesan singkat yang dikirimkan langsung secara otomatis ke ponsel warga di area rawan.

"Karena mayoritas karhutla dipicu oleh praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar, aparat kepolisian juga meningkatkan kegiatan patroli pengawasan," ucap Buyung.

Pihaknya mengimbau seluruh warga Benua Etam untuk sama sekali tidak melakukan aktivitas pembakaran sampah maupun lahan selama masa kemarau panjang ini.

Load More