- Kepala SD Negeri 002 Anggana Kutai Kartanegara, Sumargoto, mengkhawatirkan keselamatan siswa akibat kondisi fisik bangunan sekolah yang memprihatinkan.
- Plafon sekolah pernah ambruk saat liburan, dan air hujan sering masuk ke area sekolah di kawasan rawa tersebut.
- Sumargoto berencana melapor ke Dinas Pendidikan agar bangunan segera direhabilitasi demi menjamin keamanan seluruh proses belajar mengajar.
Setiap tahun sekolah tetap menerima peserta didik baru dari masyarakat sekitar, termasuk warga yang tinggal di kawasan tepian sungai.
"Kalau ada murid yang ingin sekolah di sini, tentu kita tampung. Yang penting pembelajaran tetap berjalan baik dan kepercayaan masyarakat tetap terjaga," ucapnya.
Meski berada di kawasan rawa yang cukup jauh dari pusat kecamatan, aktivitas pembelajaran tetap berlangsung setiap hari.
Sekolah juga mengajarkan Bahasa Kutai sebagai muatan lokal guna menjaga pelestarian budaya daerah.
"Kita sudah menerima buku Bahasa Kutai. Yang digunakan adalah Bahasa Kutai Tenggarong karena memang lebih banyak dipakai dalam percakapan sehari hari," terang Sumargoto.
Di sisi lain, keterbatasan fasilitas masih menjadi tantangan.
Sekolah belum memiliki gedung perpustakaan maupun laboratorium sehingga koleksi buku pelajaran sementara disimpan di ruang kelas sebagai inventaris sekolah.
"Yang penting bukunya ada dan bisa digunakan untuk belajar.
Walaupun belum ada perpustakaan, semua tetap dicatat sebagai inventaris sekolah," ujar Sumargoto.
Karakteristik lahan rawa juga memengaruhi kondisi bangunan sekolah. Ketika hujan deras turun, air beberapa kali masuk ke area sekolah sehingga guru harus segera mengamankan dokumen dan perlengkapan agar tidak rusak.
"Begitu ada air masuk, langsung kita amankan supaya tidak merusak barang-barang yang ada," sebutnya.
Menurut Sumargoto, pembangunan fasilitas pendidikan di kawasan rawa semestinya memperhitungkan kondisi tanah sejak tahap perencanaan agar struktur bangunan tetap kokoh dalam jangka panjang.
"Kalau memang bangunan beton, seharusnya dari pondasi bawah sudah kuat. Karena kondisi tanah di sini berbeda dan perlu pertimbangan yang matang," ujarnya.
Meski sekolah telah memanfaatkan panel surya untuk menekan biaya operasional listrik, Sumargoto menilai persoalan yang paling mendesak tetap berkaitan dengan keamanan bangunan.
Ia berharap rehabilitasi dapat segera direalisasikan agar proses belajar mengajar berlangsung tanpa rasa khawatir.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Bangunan Miring dan Plafon Pernah Runtuh, SDN 002 Anggana Butuh Perhatian Pemerintah
-
ASN di Samarinda Tewas Dalam Kamar Kosnya, Sempat Mengeluh Telepon Istri
-
BRIvolution Reignite Perkuat Kinerja BRI dan Berikan Dampak Bagi Perekonomian Rakyat
-
Pembagian Seragam Gratis Pemprov Kaltim Terlambat, Orangtua Terpaksa Beli Dulu
-
JPMorgan Berikan Validasi Atas BBRI, Kualitas Aset Membaik