Eko Faizin
Kamis, 10 September 2026 | 14:21 WIB
Relawan pemadam kebakaran berupaya memadamkan api yang membakar hutan dan lahan di Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (9/9/2026). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym]
Baca 10 detik
  • BMKG memperketat pemantauan titik panas dan menyalurkan data cuaca kepada Satgas Karhutla di Kalimantan pada Rabu, 9 September 2026.
  • Data tersebut dimanfaatkan untuk Operasi Modifikasi Cuaca, pencegahan titik api baru, serta penentuan wilayah prioritas distribusi air bersih.
  • BMKG memperingatkan potensi karhutla masih akan bertahan karena kemarau tahun ini terpantau lebih kering dan berdurasi lebih panjang.

SuaraKaltim.id - Sejumlah wilayah Kalimantan masih dikepung kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi sejak beberapa waktu lalu.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperketat pengawasan titik panas (hotspot) serta menyalurkan data dinamika cuaca harian kepada Satuan Tugas (Satgas) Karhutla.

Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab, menegaskan langkah terintegrasi ini ditujukan untuk mempercepat respons pemadaman api karhutla.

"Setiap pemutakhiran data BMKG menjadi dasar untuk tindakan nyata, seperti Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membasahi lahan gambut dan mendukung pemadaman. Kami juga mengeluarkan peringatan dini untuk mencegah timbulnya titik kebakaran baru, serta membantu penentuan wilayah prioritas distribusi air bersih," katanya dikutip dari Kaltimtoday--jaringan Suara.com, Rabu (9/9/2026).

Mengingat dampak kekeringan dan kebakaran lahan memiliki eskalasi berbeda di tiap daerah, BMKG mendistribusikan data cuaca mikro secara berkala kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan instansi lain.

Fachri mengatakan, pembaruan data cuaca harian tersebut menjadi rujukan utama pelaksanaan tindakan kedaruratan, mulai dari Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna membasahi lahan gambut hingga penentuan prioritas suplai air bersih dan pemadaman oleh satgas darat maupun udara.

Di antaranya, mempercepat penanganan kabut asap di Kalimantan dan mencegah munculnya titik api baru melalui sistem peringatan dini.

Kemudian data hotspot dan atmosfer digunakan langsung oleh BPBD serta tim lapangan sebagai acuan intervensi darurat, termasuk penyemaian awan.

Selanjutnya, BMKG memperingatkan potensi karhutla masih bertahan dalam beberapa bulan ke depan seiring musim kemarau tahun ini yang terpantau lebih kering dan berdurasi lebih panjang dari rata-rata normal.

Fachri menuturkan, ketersediaan data iklim yang terperinci di kanal resmi BMKG diharapkan dapat menjaga efektivitas penanggulangan karhutla lintas instansi secara cepat, tepat, dan terukur.

Load More