alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

AJI Samarinda Desak Polisi Usut Kasus Kekerasan Terhadap Jurnalis Tempo

Suhardiman Senin, 05 April 2021 | 17:24 WIB

AJI Samarinda Desak Polisi Usut Kasus Kekerasan Terhadap Jurnalis Tempo
AJI Samarinda menggelar aksi damai. [Ist]

Aksi tersebut sebagai bentuk solidaritas terhadap kekerasan yang dialami Jurnalis Tempo, Nurhadi yang dianiaya di Surabaya pada Sabtu (27/3/2021).

SuaraKaltim.id - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Samarinda menggelar aksi damai di depan Taman Samarendah, Senin (5/4/2021).

Aksi tersebut sebagai bentuk solidaritas terhadap kekerasan yang dialami Jurnalis Tempo, Nurhadi yang dianiaya di Surabaya pada Sabtu (27/3/2021).

"Kami mengutuk keras segala bentuk kekerasan oleh siapa pun kepada siapa pun. Terlebih kepada rekan jurnalis yang dalam bekerja dilingdungi UU Nomor 40/1999 tentang Pers sebagaimana diatur dalam Pasal 8," Ketua AJI Samarinda Nofiyatul Chalimah, dilansir dari Inibalikpapan.com--jaringan Suara.com.

Ketua Divisi Advokasi AJI Samarinda Zakarias Demon Daton juga mendesak Kapolda Jatim, Irjen Nico Afinta mengusut pelaku penganiayaan Jurnalis Tempo, Nurhadi, memproses pidana maupun etik.

Baca Juga: PPKM Berbasis Mikro di Solo Diperbarui, Salat Tarawih Diperbolehkan

Mereka juga minta Kapolda Kaltim, Irjen Herry Rudolf Nahak mengusut pelaku penganiayaan lima jurnalis di Samarinda baik secara pidana maupun etik.

Karena pada Oktober 2020 lalu, lima jurnalis di Samarinda juga mengalami kekerasan fisik dan intimidasi oknum polisi di Polresta Samarinda.

Saat itu lima jurnalis tengah meliput aksi demo penolakan UU Cipta Kerja. Namun mereka diamankan di Polresta Samarinda.

Di lokasi sama, kelima jurnalis ini diintimidasi, dipukul, diinjak, dijambak, didorong bagian dada.

Kasus ini sudah dilaporkan ke Propam Polresta Samarinda sejak 10 Oktober 2020. Namun hingga saat ini tak ada kejelasan. Para korban belum mendapat SP2HP.

Baca Juga: Pasca Ratusan Warga Meninggal, Hari ini Kasus Kematian Covid-19 Banten 0

AJI Kota Samarinda memandang kekerasan terhadap jurnalis telah menabrak UU Pers Nomor 40/1999. Pasal 4 UU ini menyebut "kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara".

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait