alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Tinjauan Vaksin Booster Johnson & Johnson Dinilai Terlalu Cepat: Ada Sejumlah Masalah

Denada S Putri Senin, 18 Oktober 2021 | 06:30 WIB

Tinjauan Vaksin Booster Johnson & Johnson Dinilai Terlalu Cepat: Ada Sejumlah Masalah
Vaksin COvid-19 Johnson & Johnson. [Justin Tallis/AFP]

Para komite penasihat juga mempertanyakan tentang kurangnya data tervalidasi yang disuguhkan.

SuaraKaltim.id - Tinjauan terkait uji coba vaksin booster Johnson & Johnson (J&J)  dinilai terlalu cepat dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA). Buntut dari itu, beberapa anggota komite penasihat utama mengkritik lembaga tersebut.

Para komite penasihat juga mempertanyakan tentang kurangnya data tervalidasi yang disuguhkan di hadapan panel pada Jumat (15/10/2021) lalu.

Hal itu terdengar sebelum panelis ahli dari luar memberikan keputusan bulat pada rekomendasi vaksin tersebut sebagai vaksin boostir untuk orang 18 tahun ke atas, yang sudah menerima dosis pertama dari vaksin itu.

Melansir dari Suara.com, iketahui perusahaan J&J sudah menyerahkan data yang dibutuhkan agar lolos perizinan sebagai vaksin booster kepada FDA, sepuluh hari sebelum pertemuan Komite Penasihat Vaksin dan Produk Biologi Terkait (VRBPAC) kemarin.

Baca Juga: Risiko Peradangan Jantung Langka Bikin Ahli Ragu dengan Vaksin Booster mRNA

"Apakah ada pilihan untuk mengatakan ini sedikit lebih awal? Ada sejumlah masalah yang belum terselesaikan," kata anggota komite Dr. Cody Meissner, bertanya kepada pejabat FDA, dikutip dari sumber yang sama, Senin (18/10/2021).

Ia melanjutkan, ada banyak ketidakpastian yang terjadi saat ini. Sehingga akan sulit untuk memilih atau menentang hal tersebut pada waktu itu.

Sementara itu, petugas medis FDA Dr. Timothy Brennan mengatakan bahwa salah satu uji coba yang memeriksa efek samping vaksin booster J&J hanya melibatkan 17 peserta berusia 18 hingga 55 tahun.

J&J melaporkan efek samping yang tercatat adalah 47% dari 17 peserta melaporkan sakit kepala, sementara 26% mengaku kelelahan dan 21% mengalami nyeri otot setelah mendapatkan booster. Tetapi, Brennan mengatakan bahwa ada data dari laporan J&J yang belum dikonfirmasi.

"Yang membingungkan saya adalah, dalam dokumen pengarahan dan dalam presentasi mereka hari ini, mereka berbicara berulang kali tentang data yang tidak diverifikasi oleh FDA. Dan pertanyaan yang saya miliki adalah (apa) alasan mambawa data ini ke VRBPAC tanpa dapat memverifikasi data," tutur Brennan.

Baca Juga: Cek Fakta: Benarkah Pilot Pesawat Maskapai Delta Meninggal setelah Divaksin?

Sementara ketua panitia Dr. Arnold Monto menjelaskan bahwa efektivitas dosis pertama vaksin Johnson & Johnson dibandingkan dengan vaksin mRNA, berperan dalam kecepatan peninjauan.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait