Menurutnya, biota air tawar sering terlepas dari mata rantai konservasi, karena masyarakat terlalu terbiasa menemukan di pasar dan kemudahan akses menuju perairan air tawar.
Padahal menurut Niel, topografi Pulau Kalimantan yang dikeliling sungai-sungai dan danau-danau besarnya adalah surganya biota air tawar.
Niel berharap dengan hasil yang dipaparkan hari ini, menjadi rekomendasi kebijakan untuk menyelamatkan spesies endemik, khususnya yang sudah berstatus terancam punah dan sekaligus memperkuat implementasi Pembangunan Hijau Kaltim atau Green Growth Compact (GGC).
“Kalimantan Timur ini diberkahi dengan berbagai keanekaragaman hayati, mari mengawal dengan mengenali apa saja yang masih ada, seperti dari penelitian ini,” lugasnya.
Baca Juga:Legenda Lamin Talunsur, Sebuah Desa yang Tenggelam di Dasar Sungai