Akademisi Kritik Insiden LCC Empat Pilar MPR: Stop Bikin Siswa Jadi Mesin Fotokopi

Ridho menilai kasus itu tidak cukup dibaca sebagai persoalan teknis lomba semata.

Eko Faizin
Minggu, 17 Mei 2026 | 10:03 WIB
Akademisi Kritik Insiden LCC Empat Pilar MPR: Stop Bikin Siswa Jadi Mesin Fotokopi
Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI. [Dok. Tim Media MPR RI]
Baca 10 detik
  • Insiden LCC Empat Pilar MPR mendapat kritik dari akademisi UINSI Samarinda.
  • Dia menilai pendidikan seharusnya tak membentuk siswa seperti mesin fotokopi.
  • Proses belajar perlu memberi ruang bagi pemahaman, nalar kritis siswa.

Sistem evaluasi yang terlalu terpaku pada kunci jawaban, lanjut Ridho, dapat membuat siswa takut menyampaikan argumen.

Padahal, kemampuan menjelaskan alasan dan mempertahankan jawaban merupakan bagian penting dari proses pendidikan.

Menurutnya, relasi kuasa dalam ruang pendidikan juga perlu diperhatikan. Juri, guru, atau pihak yang memiliki otoritas penilaian seharusnya tetap memberi ruang bagi siswa untuk menjelaskan nalar di balik jawabannya.

"Wibawa itu datang dari ilmu, bukan dari jabatan," ujarnya.

Ridho juga menekankan pentingnya sikap terbuka dalam proses penilaian.

Dia menuturkan, juri atau pendidik perlu mampu memvalidasi jawaban secara langsung, terutama ketika jawaban siswa memiliki substansi yang sesuai dengan pertanyaan.

Ia menilai pendidikan yang sehat bukan hanya meminta siswa mengulang teks. Pendidikan harus membantu siswa membangun pemahaman, mengaitkan konsep, dan berani menggunakan nalarnya.

"Yuk pindah dari era hafal teks ke era paham nalar," katanya.

Pandangan Ridho sejalan dengan fokus akademiknya. Dalam disertasinya di Program Pascasarjana UINSI Samarinda, ia mengangkat persoalan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang masih banyak bertumpu pada pendekatan tekstual dan hafalan.

Penelitiannya mengembangkan modul pembelajaran berbasis konteks kehidupan nyata siswa agar pembelajaran tidak berhenti pada kemampuan menghafal materi.

Ia menilai siswa bukan wadah kosong yang hanya diisi informasi, melainkan subjek yang memiliki kemampuan berpikir.

Ridho menyampaikan, transformasi pendidikan perlu memprioritaskan nalar kritis sebagai bagian dari pembentukan karakter.

Kompetisi akademik juga seharusnya menjadi ruang yang mendorong pemahaman, bukan sekadar kepatuhan pada redaksi jawaban.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini