Bangunan Miring dan Plafon Pernah Runtuh, SDN 002 Anggana Butuh Perhatian Pemerintah

Menurutnya, kondisi bangunan harus dipastikan aman agar tidak menimbulkan risiko bagi siswa maupun tenaga pendidik.

Eko Faizin
Jum'at, 31 Juli 2026 | 09:24 WIB
Bangunan Miring dan Plafon Pernah Runtuh, SDN 002 Anggana Butuh Perhatian Pemerintah
Kondisi plafon di SD Negeri 002 Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara. [Ist]
Baca 10 detik
  • Kepala SD Negeri 002 Anggana Kutai Kartanegara, Sumargoto, mengkhawatirkan keselamatan siswa akibat kondisi fisik bangunan sekolah yang memprihatinkan.
  • Plafon sekolah pernah ambruk saat liburan, dan air hujan sering masuk ke area sekolah di kawasan rawa tersebut.
  • Sumargoto berencana melapor ke Dinas Pendidikan agar bangunan segera direhabilitasi demi menjamin keamanan seluruh proses belajar mengajar.

SuaraKaltim.id - Suara anak-anak yang tengah belajar membaca, menulis, dan berhitung masih memenuhi enam ruang kelas di SD Negeri 002 Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Di tengah aktivitas belajar yang berlangsung setiap hari, pihak sekolah menyimpan kekhawatiran terhadap kondisi fisik bangunan yang dinilai semakin membutuhkan perhatian.

Kepala SD Negeri 002 Anggana, Sumargoto, mengatakan keselamatan peserta didik menjadi hal pertama yang ia pikirkan sejak mulai bertugas di sekolah tersebut pada tahun ajaran ini.

Menurutnya, kondisi bangunan harus dipastikan aman agar tidak menimbulkan risiko bagi siswa maupun tenaga pendidik.

"Kalau menurut saya, yang penting bangunan ini tidak membahayakan siswa maupun manusia yang ada di sini. Keselamatan itu yang kita utamakan. Kalau melihat kondisi bangunannya memang perlu perhatian," kata Sumargoto.

Ia menegaskan, sekolah tidak pernah menuntut fasilitas yang berlebihan.

Namun, lingkungan belajar yang aman dan nyaman merupakan kebutuhan mendasar yang seharusnya dapat dirasakan seluruh siswa.

"Kita belajar tidak harus menuntut yang mewah. Yang penting nyaman, senang, dan aman. Kalau bangunannya seperti ini tentu sedikit mengurangi kenyamanan dalam belajar," ujarnya.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan.

Sebelum dirinya menjabat sebagai kepala sekolah, salah satu bagian plafon bangunan sempat ambruk.

Beruntung, kejadian itu berlangsung ketika sekolah sedang memasuki masa libur sehingga tidak ada aktivitas belajar mengajar.

"Untungnya terjadi saat liburan. Jadi tidak ada kegiatan belajar mengajar dan tidak ada yang menjadi korban," katanya.

Peristiwa itu menjadi catatan penting bagi pihak sekolah.

Sumargoto berencana melaporkan kondisi bangunan kepada Dinas Pendidikan agar dapat dipertimbangkan dalam program rehabilitasi sehingga keamanan sekolah semakin terjamin.

Saat ini SD Negeri 002 Anggana memiliki enam rombongan belajar dengan total 101 siswa.

Setiap tahun sekolah tetap menerima peserta didik baru dari masyarakat sekitar, termasuk warga yang tinggal di kawasan tepian sungai.

"Kalau ada murid yang ingin sekolah di sini, tentu kita tampung. Yang penting pembelajaran tetap berjalan baik dan kepercayaan masyarakat tetap terjaga," ucapnya.

Meski berada di kawasan rawa yang cukup jauh dari pusat kecamatan, aktivitas pembelajaran tetap berlangsung setiap hari.

Sekolah juga mengajarkan Bahasa Kutai sebagai muatan lokal guna menjaga pelestarian budaya daerah.

"Kita sudah menerima buku Bahasa Kutai. Yang digunakan adalah Bahasa Kutai Tenggarong karena memang lebih banyak dipakai dalam percakapan sehari hari," terang Sumargoto.

Di sisi lain, keterbatasan fasilitas masih menjadi tantangan.

Sekolah belum memiliki gedung perpustakaan maupun laboratorium sehingga koleksi buku pelajaran sementara disimpan di ruang kelas sebagai inventaris sekolah.

"Yang penting bukunya ada dan bisa digunakan untuk belajar.

Walaupun belum ada perpustakaan, semua tetap dicatat sebagai inventaris sekolah," ujar Sumargoto.

Karakteristik lahan rawa juga memengaruhi kondisi bangunan sekolah. Ketika hujan deras turun, air beberapa kali masuk ke area sekolah sehingga guru harus segera mengamankan dokumen dan perlengkapan agar tidak rusak.

"Begitu ada air masuk, langsung kita amankan supaya tidak merusak barang-barang yang ada," sebutnya.

Menurut Sumargoto, pembangunan fasilitas pendidikan di kawasan rawa semestinya memperhitungkan kondisi tanah sejak tahap perencanaan agar struktur bangunan tetap kokoh dalam jangka panjang.

"Kalau memang bangunan beton, seharusnya dari pondasi bawah sudah kuat. Karena kondisi tanah di sini berbeda dan perlu pertimbangan yang matang," ujarnya.

Meski sekolah telah memanfaatkan panel surya untuk menekan biaya operasional listrik, Sumargoto menilai persoalan yang paling mendesak tetap berkaitan dengan keamanan bangunan.

Ia berharap rehabilitasi dapat segera direalisasikan agar proses belajar mengajar berlangsung tanpa rasa khawatir.

"Kalau barang rusak mungkin bisa diganti. Tapi manusia harus diselamatkan. Itu yang paling penting," tegasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini