- Pengelola Bandara APT Pranoto Samarinda mengantisipasi ancaman kabut asap karhutla meskipun operasional penerbangan masih berjalan aman pada hari Sabtu.
- Terminal bandara telah dilengkapi alat penyaring udara dan fasilitas kesehatan untuk melindungi puluhan ribu penumpang dari potensi paparan asap.
- Otoritas bandara memperkuat koordinasi lintas instansi serta melarang warga membakar sampah atau lahan demi menjaga keselamatan penerbangan.
SuaraKaltim.id - Ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai diantisipasi serius oleh pengelola Bandar Udara APT Pranoto Samarinda, Kalimantan Timur. Meski hingga kini belum mengganggu jarak pandang maupun operasional penerbangan, otoritas bandara telah menyiapkan sejumlah langkah jika kondisi asap memburuk.
Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara Kelas I APT Pranoto, I Kadek Yuli Sastrawan, mengatakan kondisi penerbangan hingga Sabtu masih aman. Jarak pandang di sekitar bandara juga belum terdampak kabut asap.
“Sejauh ini belum ada, dan semoga tidak ada dampak terhadap operasional penerbangan maupun jarak pandang di bandara,” kata Kadek di Samarinda, Sabtu.
Ancaman tersebut menjadi perhatian karena aktivitas penerbangan di APT Pranoto cukup tinggi. Sepanjang 1-21 Agustus 2026, bandara tersebut telah melayani 40.336 pengguna jasa penerbangan, terdiri atas 19.897 penumpang yang tiba di Samarinda dan 20.439 penumpang yang berangkat.
Baca Juga:Samarinda Bakal Buka Penerbangan Rute IKN-Malaysia di Februari 2026
Otoritas bandara memastikan layanan penerbangan masih berjalan stabil. Namun, kondisi tersebut tidak membuat pengelola lengah terhadap potensi perubahan cuaca dan pergerakan asap akibat karhutla di wilayah Kalimantan.
Terminal penumpang telah dilengkapi pendingin udara dan alat penyaring udara sebagai bagian dari langkah antisipasi apabila kualitas udara mulai menurun.
Selain itu, fasilitas kesehatan melalui Balai Karantina Kesehatan juga disiagakan untuk menghadapi kemungkinan dampak asap terhadap pengguna jasa.
“Jika nantinya memang terdampak asap, maka seluruh pengguna jasa akan diimbau untuk menggunakan masker,” ujar Kadek.
Otoritas bandara juga memperkuat koordinasi dengan BMKG, AirNav, kepolisian, serta maskapai penerbangan. Koordinasi tersebut dilakukan untuk memantau kondisi cuaca, jarak pandang, serta potensi gangguan terhadap keselamatan dan kelancaran penerbangan.
Baca Juga:Bea Cukai: Jalur Domestik dan Internasional di APT Pranoto Harus Terpisah
Bagi dunia penerbangan, kabut asap bukan sekadar persoalan kualitas udara. Penurunan jarak pandang dapat memengaruhi keselamatan penerbangan dan berpotensi mengganggu jadwal penerbangan apabila kondisi memburuk.
Karena itu, pengelola APT Pranoto juga meminta masyarakat di sekitar kawasan bandara tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan.
Asap dari pembakaran di sekitar bandara dinilai dapat mengganggu operasional penerbangan, terlebih jika kondisi tersebut menyebabkan penurunan jarak pandang.
Otoritas bandara mengingatkan bahwa tindakan pembakaran yang berdampak terhadap operasional dan keselamatan penerbangan dapat berujung pada sanksi pidana dan denda sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan.
Dengan kondisi saat ini, APT Pranoto masih mampu melayani puluhan ribu penumpang tanpa gangguan akibat kabut asap. Namun, kesiapsiagaan telah ditingkatkan untuk mengantisipasi jika asap karhutla bergerak mendekati kawasan bandara.