- Aliansi GERAM menggelar unjuk rasa jilid II di Kantor Gubernur Kaltim pada 4 November 2026.
- Massa menagih realisasi tujuh tuntutan kepada Gubernur Rudy Mas'ud karena enam poin belum diselesaikan.
- Aksi unjuk rasa tersebut berakhir ricuh dan dibubarkan aparat kepolisian menggunakan kendaraan water cannon.
SuaraKaltim.id - Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) kembali menggelar unjuk rasa di Kantor Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), pada Rabu 4 November 2026.
Demonstrasi jilid II mahasiswa dan rakyat Kaltim tersebut berakhir panas. Aksi yang berlangsung sejak siang hingga malam itu akhirnya dibubarkan aparat kepolisian menggunakan kendaraan water cannon.
Massa yang menagih realisasi janji Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud meluapkan kekecewaan dengan melempar sayuran dan buah-buahan busuk ke arah kantor gubernur.
"Tujuan kami hari ini menagih janji dari tuntutan sebelumnya. Karena baru satu yang terealisasi, sedangkan enam lainnya belum," ujar Humas aksi GERAM, Arianto dikutip dari Kaltimfaktual--jaringan Suara.com.
Arianto mengatakan aksi kali ini bertujuan menagih komitmen pemerintah atas tujuh tuntutan yang sebelumnya disampaikan kepada Gubernur Kaltim.
Menurutnya, dari tujuh tuntutan tersebut, baru satu yang dinilai telah direalisasikan, sedangkan enam lainnya belum mendapatkan penyelesaian.
Massa ingin bertemu langsung dengan Gubernur Rudy Mas'ud atau Wakil Gubernur Seno Aji untuk meminta pertanggungjawaban atas sejumlah tuntutan yang belum mendapatkan penyelesaian.
Sementara Jenderal Lapangan GERAM, Wira Saguna Abyasa Harahap menegaskan bahwa aksi kembali digelar karena pihaknya belum memperoleh jawaban yang dianggap memadai dari pemerintah setelah demonstrasi sebelumnya yakni pada 21 Oktober 2026.
"Hal yang mendasari kami turun hari ini adalah karena kemudian pemerintah atau Pemprov Kaltim tidak memberikan jawaban-jawaban yang konkret dan jawaban-jawaban yang kami inginkan setelah kami melaksanakan aksi pada 21 Oktober kemarin," kata Wira.
Dia mengaku komunikasi dengan pihak humas Pemprov Kaltim belum menghasilkan kepastian yang diharapkan.
"Hal-hal yang diberikan adalah janji-janji yang tidak pasti. Dan hari ini kami juga tidak mendengar atau mendapat jawaban yang kami inginkan sama sekali," lanjutnya.
GERAM juga mempertanyakan perkembangan surat Gubernur Kaltim kepada Presiden terkait usulan penetapan karhutla sebagai bencana nasional.
Salah satu aksi yang menyita perhatian adalah pelemparan sayuran dan buah-buahan busuk ke arah pintu masuk kantor gubernur.
Aksi simbolik tersebut bukan tanpa alasan. GERAM ingin menggambarkan dampak pemadaman listrik bergilir yang dinilai telah merugikan masyarakat, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Salah seorang demonstran, Muhammad Khadafi, mengaku ikut merasakan dampak pemadaman listrik di daerah asalnya, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).