Scroll untuk membaca artikel
Yovanda Noni
Kamis, 22 Oktober 2020 | 08:44 WIB
Duta Wehea, Eng Doq mengenakan pakaian kebesaran Suku Dayak Wehea. (Foto : Yovanda)

Diketahui, Dayak Wehea merupakan salah satu sub Suku Dayak yang berada di Kaltim. Terdapat sekitar 6.000 jiwa suku Wehea yang tersebar dan mendiami enam desa di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Nama keenam desa tersebut adalah Bea Nehas, Diaq Lay, Dea Beq, Nehas Liah Bing, Diaq Leway, dan Long Wehea.

Nenek moyang suku Wehea diyakini telah mendiami wilayah Muara Wahau selama  puluhan generasi dan bahkan diklaim sebagai sub Suku Dayak tertua yang mendiami wilayah tersebut. Menurut penuturan lisan, nenek moyang suku Wehea berasal dari Cina Daratan.

“Saat ini, masih belum banyak yang mengenal bagaimana kearifan lokal Dayak Wehea. Ketika ada yang datang, mereka akan menyebut Wehea adalah tempat yang damai. Karena kita manusia menyatu dengan alam,” sebutnya.

Masyarakat Dayak Wehea memiliki bahasa dan kepercayaan yang sama. Kehidupan sehari-hari mereka diliputi oleh tradisi dan kegiatan adat yang dilakukan setiap tahunnya.

Baca Juga: Tak Punya Uang Beli Kado, Seorang Ayah di Kutim Nekat Curi HP untuk Anaknya

Suku Wehea juga sangat menghargai dan menjunjung tinggi kegiatan berladang dan menanam padi.

Terdapat 38 ritual adat yang dilaksanakan dalam setahun yang meliputi ritual untuk menanam hingga memanen padi, ritual untuk anak, dan ritual lainnya seperti pernikahan adat dan ritual kematian.

Setiap tahun, tradisi adat Lom Plai (Mbob Jengea) dilakukan untuk merayakan panen padi. Seluruh pengerjaan dan pelaksanaan proses ritual adat dilakukan secara bergotong royong oleh semua lapisan masyarakat.

“Suku Wehea juga memiliki tradisi mengurus dan mengatur pemanfaatan sumberdaya hutan. Tradisi tersebut telah dilembagakan dalam bentuk aturan kelembagaan adat.” katanya

Meskipun pengaruh perubahan zaman ikut memengaruhi perubahan struktur kelembagaan adat, masyarakat Dayak Wehea tetap mempertahankan pemberlakuan aturan dan kelembagaan adatnya.

Baca Juga: Kisah Meri, Siap Hadapi Resesi dengan Tumpar Benuaq dari Kutai Kartanegara

“Ini yang sangat kami hormati. Pesan leluhur akan mendarah daging. Kami punya lembaga adat yang menjadi tempat kami berkumpul. Memang benar, kami juga mengikuti modernisasi zaman, tapi lembaga adat tidak boleh berubah,” ujarnya.

Load More