Diketahui, Dayak Wehea merupakan salah satu sub Suku Dayak yang berada di Kaltim. Terdapat sekitar 6.000 jiwa suku Wehea yang tersebar dan mendiami enam desa di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Nama keenam desa tersebut adalah Bea Nehas, Diaq Lay, Dea Beq, Nehas Liah Bing, Diaq Leway, dan Long Wehea.
Nenek moyang suku Wehea diyakini telah mendiami wilayah Muara Wahau selama puluhan generasi dan bahkan diklaim sebagai sub Suku Dayak tertua yang mendiami wilayah tersebut. Menurut penuturan lisan, nenek moyang suku Wehea berasal dari Cina Daratan.
“Saat ini, masih belum banyak yang mengenal bagaimana kearifan lokal Dayak Wehea. Ketika ada yang datang, mereka akan menyebut Wehea adalah tempat yang damai. Karena kita manusia menyatu dengan alam,” sebutnya.
Masyarakat Dayak Wehea memiliki bahasa dan kepercayaan yang sama. Kehidupan sehari-hari mereka diliputi oleh tradisi dan kegiatan adat yang dilakukan setiap tahunnya.
Baca Juga: Tak Punya Uang Beli Kado, Seorang Ayah di Kutim Nekat Curi HP untuk Anaknya
Suku Wehea juga sangat menghargai dan menjunjung tinggi kegiatan berladang dan menanam padi.
Terdapat 38 ritual adat yang dilaksanakan dalam setahun yang meliputi ritual untuk menanam hingga memanen padi, ritual untuk anak, dan ritual lainnya seperti pernikahan adat dan ritual kematian.
Setiap tahun, tradisi adat Lom Plai (Mbob Jengea) dilakukan untuk merayakan panen padi. Seluruh pengerjaan dan pelaksanaan proses ritual adat dilakukan secara bergotong royong oleh semua lapisan masyarakat.
“Suku Wehea juga memiliki tradisi mengurus dan mengatur pemanfaatan sumberdaya hutan. Tradisi tersebut telah dilembagakan dalam bentuk aturan kelembagaan adat.” katanya
Meskipun pengaruh perubahan zaman ikut memengaruhi perubahan struktur kelembagaan adat, masyarakat Dayak Wehea tetap mempertahankan pemberlakuan aturan dan kelembagaan adatnya.
Baca Juga: Kisah Meri, Siap Hadapi Resesi dengan Tumpar Benuaq dari Kutai Kartanegara
“Ini yang sangat kami hormati. Pesan leluhur akan mendarah daging. Kami punya lembaga adat yang menjadi tempat kami berkumpul. Memang benar, kami juga mengikuti modernisasi zaman, tapi lembaga adat tidak boleh berubah,” ujarnya.
Berita Terkait
-
Tol di Sumatera, Kalimantan, dan Bali Dipadati Kendaraan! Ini Pemicunya
-
Wow! Stadion Segiri Berubah Total Usai Direnovasi 81 Miliar, Intip Perubahannya
-
Hutan Mangrove Lestari, Ekonomi Masyarakat Adat Kaltim Kuat Berkat Beasiswa Kemitraan Baznas
-
Rocky Gerung Naik Mobil Pick Up Demi Bakar Semangat Mahasiswa untuk Aksi Indonesia Gelap
-
Ternyata IKN Juga Banjir, Bandara VVIP Terdampak, Proyek Kota Modern Dipertanyakan
Terpopuler
- Dedi Mulyadi Sebut Masjid Al Jabbar Dibangun dari Dana Pinjaman, Kini Jadi Perdebatan Publik
- Baru Sekali Bela Timnas Indonesia, Dean James Dibidik Jawara Liga Champions
- Terungkap, Ini Alasan Ruben Onsu Rayakan Idul Fitri dengan "Keluarga" yang Tak Dikenal
- Yamaha NMAX Kalah Ganteng, Mesin Lebih Beringas: Intip Pesona Skuter Premium dari Aprilia
- JakOne Mobile Bank DKI Bermasalah, PSI: Gangguan Ini Menimbulkan Tanda Tanya
Pilihan
-
Hasil Liga Thailand: Bangkok United Menang Berkat Aksi Pratama Arhan
-
Prediksi Madura United vs Persija Jakarta: Jaminan Duel Panas Usai Lebaran!
-
Persib Bandung Menuju Back to Back Juara BRI Liga 1, Ini Jadwal Lengkap di Bulan April
-
Bocoran dari FC Dallas, Maarten Paes Bisa Tampil Lawan China
-
Almere City Surati Pemain untuk Perpanjang Kontrak, Thom Haye Tak Masuk!
Terkini
-
APBD Terpangkas Rp 300 Miliar, Pemkab PPU Matangkan Program Kartu Cerdas
-
Libur Lebaran di Beras Basah: 3.000 Pelancong, Mayoritas Wisatawan Lokal
-
Harga Sewa Kapal ke Pulau Beras Basah: Mulai Rp 550 Ribu, Ini Daftarnya!
-
Dua Penghargaan Internasional dari The Asset Triple A Awards 2025 Sukses Diboyong BRI
-
Dari Nganjuk ke Sepaku, Wisatawan Rela Tempuh Perjalanan Jauh Demi IKN