SuaraKaltim.id - Penutupan ruas jalan di Kawasan Industri Kariangau (KIK) terjadi pada Rabu (13/10/2021) kemarin. Keramaian akibat penutupan jalan tersebut tak terbendung. Pemilik lahan Gody yang menutup area itu.
Hal itu terjadi karena buntut tukar guling lahan dengan pemerintah daerah (Pemda) yang diklaim tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Apalagi persoalan yang dialaminya terbengkalai selama 15 tahun.
Ditemui saat melakukan aksi, Gody diwakili kuasa hukumnya Farida Sulistyni menerangkan, kliennya sudah melakukan upaya persuasif sejak April 2021. Tentunya demi mendapatkan haknya yakni mengajukan permohonan kepada wali kota maupun gubernur.
“Jadi tidak tiba-tiba kami melakukan aksi. Kami sudah mengajukan surat permohonan perlindungan hukum, kedua somasi, kemudian yang ketiga pemberitahuan pengamanan aset,” ujarnya dilansir dari Inibalikpapan.com--Jaringan Suara.com, Kamis (14/10/2021).
Pihaknya mengaku, sudah mendapat surat balasan dari Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas'ud. Isinya menyatakan bahwa persoalan tukar guling lahan merupakan tanggung jawab pemerintah provinsi.
“Padahal saat rapat awal, semua pihak hadir. Ada Walikota, perwakilan PUPR, otomatis pemerintah kota juga bertanggung jawab atas penggantian lahan selain Pemprov Kaltim,” akunya.
Dia menerangkan, kasus ini bermula saat pemerintah menawarkan tukar guling lahan untuk pembangunan jalan. Lahan milik Gody seluas 15 ribu meter persegi diambil alih pemerintah untuk pembangunan jalan.
Sebagai gantinya, Gody mendapatkan lahan milik pemerintah yang ada di tepi sungai seluas 14 ribu meter persegi.
“Alasannya membahayakan kalau dibangun jalan di tepi sungai, akhir memanggil H Gody agar menyerahkan lahannya,” kisahnya.
Baca Juga: Lawan PSBS Biak, Empat Pemain Persiba Balikpapan Absen Karena Cidera
Dari situ kesepakatan pun dicapai. Permasalahan timbul saat kliennya, lanjut Farida Sulistyni, hendak membuat sertifikat atas tanah hasil tukar guling.
“IMTN atas tanah yang diberikan pemerintah seluas 14 ribu meter persegi ternyata hanya 10 ribu meter persegi. Sudah menciutkan,” akunya lagi.
Bukan cuma itu, saat pemilik lahan hendak mengurus perpanjangan izin prinsip atas usaha yang dikembangkan di atas lahan hasil tukar guling, belakangan mengalami kendala.
“Tidak pernah diproses. Padahal hasil musyawarah waktu itu dijanjikan akan diberi kemudahan tapi dua tahun kemudian tidak dapat diperpanjang,” ucapnya dengan nada bicara menggebu-gebu.
Hal itu kontan merugikan kliennya. Lahan pengganti yang semula 14 ribu meter persegi menjadi 10 ribu meter persegi, tidak bisa dibuat sertifikat dengan alasan tidak tahu, padahal lokasi lahan di sekitar sudah sertifikat semua. Kemudian, izin prinsip tidak pernah diberikan.
“Klien kami tak butuh penggantian lahan dalam bentuk uang. Hanya mengharapkan agar sesuai dengan perjanjian awal,” tutupnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Haunted Garden Hadir di IKN, Ada Dinner Halloween hingga Atraksi Fire Juggling
-
37 Orang Diamankan Terkait Pencurian Kabel Telkom di Samarinda, 4 Ditetapkan Tersangka
-
Karhutla 20 Hektare di Samarinda, Api Tinggal 20 Meter dari Asrama Yonzipur
-
Karhutla Kaltim Tembus 9.500 Hektare dalam 3 Bulan, Kabut Asap Masih Mengancam
-
Karhutla Kalimantan: Polri Terjunkan 200 Brimob, 10 Anggota Bareskrim ke Kaltim-Kalteng