Scroll untuk membaca artikel
Denada S Putri
Senin, 04 Maret 2024 | 17:00 WIB
Proyek pekerjaan Bendungan Sepaku. [ANTARA]

"Kalau korban banjir di RT 02 dan 01 kemarin, mungkin juga karena penggundulan hutan. Karena hutan alam sudah tidak ada lagi. Sudah tidak seperti dulu," bebernya.

Ia menegaskan, hutan industri justru lebih dominan. Hutan tersebut cuma bisa bertahan selama 5 tahun. Hilangnya hutan alam juga katanya membuat resapan air tak lagi ada.

Soal banjir yang dialami Jubaen, tak terjadi tiap tahun. Jangka waktunya dari 3 sampai 5 tahun musibah itu baru terjadi.

"Tidak setiap tahunnya banjir," singkatnya.

Baca Juga: Drama IKN, 9 Tersangka Dibebaskan Jelang Ramadhan, Proses Hukum Berlanjut

Sebelum ada IKN, ia mengaku banjir juga sering terjadi. IKN hadir, justru menjadi faktor lain penyebab banjir.

Dahulu kata Jubaen, banjir tak terlalu memiliki dampak yang besar. Namun, saat IKN hadir peristiwa itu justru lebih parah.

"Dulunya banyak kolam, banyak rawa, banyak aluran-aluran air. Perusahaan yang ada katanya buat parit. Semacam parit gajah. Jadi rawa dan kolam dikeringin supaya bisa ditanamin tanaman industri. Makanya yang biasanya air kalau hujan ada penampungan, sekarang sudah tidak ada. Air otomatis larinya ke sungai, tak ada resapan," bebernya.

Ia meminta, masuknya IKN bisa membuat pemerintah menormalisasikan sungai di wilayah tersebut. Pelebaran dan pembuatan kolam penanggulangan banjir bisa diwujudkan.

Rencana itu katanya sudah disosialisasikan pihak Otorita IKN ke masyarakat. Seperti ke ketua adat, kelurahan, namun belum disetujui oleh warga.

Baca Juga: Suara dari X, Kematian Pesut Mahakam dan Dampak Pembangunan IKN

"Belum kami iyakan. Kami harus musyawarah dulu dengan para tokoh-tokoh bagaimama nanti kedepannya. Apakah rencana itu efektif atau tidak," lanjutnya.

Load More