-
- Pemprov Kaltim masih membahas skema baru Tunjangan Penghasilan Pegawai (TPP) ASN dengan menyesuaikan kondisi fiskal daerah, di mana belanja pegawai tercatat sekitar 25 persen dari APBD.
- Sekda Kaltim, Sri Wahyuni, menegaskan kebijakan TPP belum final dan akan dirancang seimbang antara kesejahteraan ASN dan keberlanjutan pembangunan daerah.
- Publik menyoroti transparansi TPP, sementara Pemprov memastikan penyusunan kebijakan tetap berlandaskan kemampuan keuangan dan prinsip akuntabilitas.
SuaraKaltim.id - Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap transparansi keuangan aparatur, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) masih mematangkan skema baru Tunjangan Penghasilan Pegawai (TPP) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN).
Sekretaris Daerah (Sekda) Kaltim, Sri Wahyuni, menjelaskan bahwa pembahasan TPP saat ini masih berlangsung dan disesuaikan dengan kondisi fiskal daerah.
Hal itu disampaikan Sri, Selasa, 14 Oktober 2025.
“Masih kita bicarakan dan sesuaikan. Saat ini, belanja pegawai sekitar 25 persen dari total APBD. Jadi masih aman, di bawah ambang batas maksimal 30 persen,” ujarnya, disadur dari Presisi.co--Jaringan Suara.com, Rabu, 15 Oktober 2025.
Isu mengenai besaran TPP pejabat struktural, termasuk kabar bahwa TPP Sekda mencapai Rp99 juta per bulan, turut memantik diskusi publik.
Namun Sri enggan menanggapi secara rinci.
“Wah, itu pertanyaannya personal sekali. Sudah tahu juga kan, jadi enggak perlu saya jawab lagi,” katanya menanggapi.
Ia menegaskan, Pemprov belum menetapkan skema akhir dan masih berupaya agar kebijakan tersebut tetap seimbang antara kesejahteraan ASN dan keberlanjutan pembangunan daerah.
“Kita ingin kebijakan yang tidak hanya memperhatikan kesejahteraan ASN, tapi juga menjaga agar program pembangunan tetap berjalan sesuai visi-misi gubernur,” tegasnya.
Baca Juga: Kaltim Genjot Pembangunan Energi Bersih, PLTS dan Biomassa Jadi Andalan
Selain membahas TPP, Pemprov juga mencermati kebijakan pemerintah pusat terkait gaji Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Sri menyebut Kaltim dan Kalimantan Utara termasuk daerah dengan struktur gaji tertinggi di Indonesia.
“Saya akan cek dulu besarannya, karena itu teknis. Kalau memang ada dana dari pusat, berarti masuk melalui DAU (Dana Alokasi Umum). Jika ada tambahan, bisa saja sebagian dialihkan untuk program prioritas daerah,” jelasnya.
Sementara itu, sejumlah pengamat kebijakan publik mendesak Pemprov Kaltim untuk lebih terbuka dalam menyusun skema TPP, mengingat besarnya anggaran yang dialokasikan dan pentingnya prinsip keadilan dalam birokrasi.
Hingga kini, Pemprov Kaltim belum memastikan kapan skema final TPP akan diumumkan.
Namun Sri menegaskan seluruh proses tetap mengacu pada kemampuan keuangan daerah serta prinsip proporsionalitas dan akuntabilitas publik.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Haunted Garden Hadir di IKN, Ada Dinner Halloween hingga Atraksi Fire Juggling
-
37 Orang Diamankan Terkait Pencurian Kabel Telkom di Samarinda, 4 Ditetapkan Tersangka
-
Karhutla 20 Hektare di Samarinda, Api Tinggal 20 Meter dari Asrama Yonzipur
-
Karhutla Kaltim Tembus 9.500 Hektare dalam 3 Bulan, Kabut Asap Masih Mengancam
-
Karhutla Kalimantan: Polri Terjunkan 200 Brimob, 10 Anggota Bareskrim ke Kaltim-Kalteng