Eko Faizin
Senin, 05 Januari 2026 | 20:47 WIB
Ilustrasi hujan. [Shutterstock]
Baca 10 detik
  • BPBD Kaltim memperkuat database logistik hadapi potensi hujan tinggi.
  • Langkah ini merespons data BMKG terkait risiko bencana hidrometeorologi.
  • Tahapan penanggulangan bencana dilakukan secara menyeluruh dan sistematis.

SuaraKaltim.id - BPBD Kalimantan Timur (Kaltim) memperkuat database logistik dan peralatan mitigasi guna menghadapi potensi curah hujan tinggi yang diprediksi berlangsung hingga akhir Maret 2026.

"Penting untuk memiliki database perlengkapan darurat agar kita benar-benar siap saat bencana datang," kata Kepala BPBD Kaltim Buyung Budi Purnomo dikutip dari Antara, Senin (5/1/2026).

Buyung menjelaskan bahwa inventarisasi tersebut mencakup ketersediaan perahu karet dan tenda pengungsian yang tersebar di BPBD Kaltim maupun tingkat kabupaten dan kota.

Langkah ini merespons data BMKG yang menunjukkan adanya risiko bencana hidrometeorologi kategori sedang hingga tinggi.

Dia menyampaikan, pihaknya mencatat, curah hujan dengan intensitas rata-rata sedang antara 20 hingga 50 milimeter per hari masih mendominasi wilayah ini pada Januari 2026.

Wilayah Kabupaten Berau dan Kutai Timur menjadi perhatian khusus petugas karena masih berpotensi mengalami hujan deras akibat efek siklon dari daerah Pasifik.

"Dampak curah hujan tinggi tersebut sudah terlihat di kawasan Wahau yang mengalami banjir akibat luapan sungai hingga mengganggu akses jalan warga," ucapnya.

Meskipun banjir melanda, Buyung memastikan belum ada laporan terkait kejadian tanah longsor di kawasan tersebut karena profil struktur tanah yang berbeda dengan Sumatera.

BPBD terus berkoordinasi secara intensif dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat dan daerah meskipun belum ada penetapan status siaga nasional.

Koordinasi lintas sektor juga diperkuat bersama Dinas Sosial untuk memastikan kesiapan logistik pangan dan kebutuhan dasar jika pengungsian diperlukan.

Tahapan penanggulangan bencana dilaksanakan secara menyeluruh dan sistematis mulai dari perencanaan, mitigasi risiko, tanggap darurat, hingga pemulihan pasca-bencana.

"Kesiapsiagaan personel gabungan terus ditingkatkan untuk mengantisipasi dampak bencana hidrometeorologi yang sejauh ini pantauannya masih bersifat lokal," kata Buyung.

Tim siaga bencana yang disiapkan tidak hanya berasal dari unsur BPBD, melainkan juga melibatkan Tagana, Dinas Sosial, dan tenaga kesehatan.

"Seluruh elemen penyelamatan dan peralatan dari berbagai instansi tersebut siap digerakkan sewaktu-waktu jika eskalasi bencana meningkat," tegas Buyung. (Antara)

Load More