- Prudential menyampaikan jika industri asuransi kesehatan menghadapi tantangan kompleks.
- Sejumlah negara tengah mengalami kenaikan biaya rumah sakit dan obat-obatan.
- Di tengah kondisi tersebut, industri asuransi tetap menunjukkan pertumbuhan positif.
Repricing sebagai Mekanisme Penyesuaian Risiko
Dalam praktik industri asuransi kesehatan, terdapat mekanisme yang dikenal sebagai repricing.
Langkah ini merupakan proses peninjauan kembali harga premi atau kontribusi asuransi berdasarkan berbagai faktor yang berkembang dari waktu ke waktu.
Chief Customer & Marketing Officer Prudential Indonesia, Karin Alkrina Zulkarnaen, menjelaskan bahwa repricing dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah faktor, mulai dari inflasi medis, peningkatan risiko kesehatan nasabah, hingga pengalaman klaim yang terjadi dalam suatu periode.
Menurutnya, tanpa peninjauan berkala terhadap premi, dapat muncul ketidakseimbangan antara biaya klaim yang terus meningkat dengan premi yang dibayarkan nasabah.
“Jika kondisi ini dibiarkan, maka berpotensi memengaruhi kualitas layanan maupun keberlanjutan produk asuransi kesehatan,” jelas Karin.
Ia menegaskan bahwa repricing bukan sekadar langkah menaikkan premi, melainkan bagian dari upaya menjaga agar perlindungan kesehatan tetap dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.
Penyesuaian premi sendiri bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kenaikan harga obat dan biaya rumah sakit, pengembangan teknologi medis, hingga perubahan risiko kesehatan yang sejalan dengan bertambahnya usia nasabah.
Aturan Repricing dalam Regulasi OJK
Untuk memastikan mekanisme tersebut berjalan secara transparan dan terukur, OJK telah menerbitkan Peraturan OJK (POJK) Nomor 36 Tahun 2025 tentang Penguatan Ekosistem Asuransi Kesehatan.
Regulasi tersebut mengatur bahwa perusahaan asuransi dapat melakukan peninjauan premi atau kontribusi maksimal satu kali dalam satu tahun polis.
Penyesuaian tersebut juga harus disampaikan kepada nasabah secara tertulis paling lambat 30 hari kalender sebelum diberlakukan.
Ketentuan ini menjadi bagian dari upaya penguatan pengawasan industri, sekaligus memastikan perusahaan asuransi tetap sehat di tengah tekanan inflasi medis.
Selain itu, aturan tersebut juga menetapkan bahwa besaran penyesuaian premi tidak boleh melampaui asumsi margin produk yang sebelumnya telah dilaporkan kepada OJK.
Tujuannya adalah untuk mencegah praktik penyesuaian premi yang dilakukan semata-mata untuk meningkatkan keuntungan perusahaan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
- Panitia Batalkan Undang Raffi Ahmad di GSI Youth Fest Hero Summit
- Sejumlah Jenderal Diperiksa Propam, Ini Respons Mabes
- Jenderal Listyo Sigit Prabowo Ditetapkan Tersangka Penyadapan Presiden Prabowo
- Margarito Kamis Jelaskan Isi Putusan MA, RI Tak Lagi Punya Wakil Presiden yang Sah?
Pilihan
-
Helikopter Penerbad Mi-17 Jatuh Saat Padamkan Karhutla di Pematang Limau, Dua Personel Hilang
-
Hanya Sebulan di Istana, Presiden Prabowo Pecat Listyo Sigit Prabowo
-
Tersandung Skandal Penyadapan, Prabowo Pecat Listyo Sigit dari KSP dan Tunjuk Letjen Ariyo Jadi Plt
-
Nusron Wahid Diperiksa KPK Terkait Suap HGB
-
Konser Andrea Bocelli di JIExpo Ricuh: Massa Bakar Pembatas Jalan, Wartawan Terhantam Batu
Terkini
-
Rudy Mas'ud ke Jakarta di Tengah Rencana Demo, Ini Penjelasan Pemprov Kaltim
-
Akhir Pelarian Pembobol ATM di Samarinda, Polisi Tangkap Pelaku hingga Jawa Barat
-
Kasus ISPA di Kaltim Melonjak Drastis, 3 Daerah Mendominasi
-
Wali Kota Andi Harun Buka Suara soal Korupsi Varia Niaga Rp30,97 Miliar
-
Tersangka Korupsi Batu Bara Rp30,9 Miliar, Dirut Varia Niaga Samarinda Tidak Ditahan