- Program beasiswa Gratispol Pemprov Kaltim memasuki tahun kedua pelaksanaan.
- Namun, sejumlah pendaftar yang memalsukan data identitas untuk bisa lolos seleksi.
- Beberapa di antara pendaftar memalsukan NIK hingga memanipulasi domisili.
Praktik itu terungkap setelah pemerintah melakukan pengecekan terhadap data mahasiswa melalui situs Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI).
"Ternyata, (beberapa) IPK di bawah syarat. Ada yang dua koma sekian," sebutnya.
Temuan lain berkaitan dengan manipulasi domisili. Menurut Dasmiah, terdapat mahasiswa yang mengubah alamat domisili pada kartu tanda penduduk agar terdaftar sebagai warga Kaltim.
Dalam salah satu kasus, terdapat mahasiswa yang lahir di Samarinda, kemudian berpindah domisili ke daerah lain, lalu kembali mengubah alamat domisili ke Kaltim ketika program Gratispol dibuka.
Namun pemerintah tetap menolak pendaftar tersebut karena tidak memenuhi ketentuan masa domisili minimal.
"Tidak bisa kami terima karena syarat minimal domisili itu tiga tahun," ungkapnya.
Secara keseluruhan, jumlah mahasiswa yang terbukti melakukan kecurangan dalam proses pendaftaran dilaporkan mencapai puluhan orang.
Mereka akhirnya dicoret dari daftar penerima program Gratispol setelah proses verifikasi dilakukan.
Dasmiah mengatakan pemerintah daerah kini berupaya memperbaiki sistem verifikasi penerima program setelah sebelumnya sempat muncul persoalan dalam proses penetapan penerima beasiswa.
Pada akhir 2025, misalnya, terdapat sejumlah mahasiswa yang sempat dinyatakan lolos sebagai penerima program namun kemudian dibatalkan karena tidak memenuhi persyaratan. Beberapa di antaranya berasal dari kelas eksekutif atau telah melewati batas usia penerima program.
Menurut Dasmiah, situasi tersebut terjadi karena proses perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kaltim pada 2025 mengalami keterlambatan.
Anggaran perubahan baru disahkan pada awal November 2025, sehingga waktu yang tersedia untuk menjaring penerima program menjadi sangat terbatas.
Dalam kondisi tersebut, pemerintah daerah harus mengejar target penyerapan sekitar 24 ribu mahasiswa penerima program hingga akhir tahun.
Namun menjelang penutupan tahun anggaran, jumlah mahasiswa yang mendaftar melalui situs resmi Gratispol baru mencapai sekitar 60 persen dari target.
Untuk mengejar target tersebut, Biro Kesra kemudian meminta perguruan tinggi untuk mengusulkan nama-nama mahasiswa yang dianggap memenuhi syarat sebagai penerima program.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Moisturizer Kolagen untuk Kulit Keriput Usia 45 ke Atas, Bikin Wajah Kencang Sesuai Review
- 5 Sepatu Skechers Max Cushioning yang Empuk untuk Jalan Kaki Jauh dan Olahraga
- 4 Parfum Aroma Teh di Alfamart yang Tahan Lama Sesuai Review, Harga Mulai Rp30 Ribuan
- Rekomendasi Produk Viva untuk Eksfoliasi Wajah, Mulai Rp12 Ribuan
- Apakah Pertalite Akan Naik Harga 26 September 2026? Ini Kata Bahlil
Pilihan
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
-
Hukuman Lebih Ringan, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Vonis Nadiem Makarim 9 Tahun Penjara
Terkini
-
Potret Indonesia dari Dekat, BRI inFrame 2026 Rekam Kisah Ekonomi Kerakyatan
-
Danamon Travel Fair Hadir Kembali, Raih Promo Hemat hingga 70%
-
254 Penerbangan di Kalimantan Terganggu Akibat Kabut Asap Karhutla
-
Karhutla Kaltim: Hotspot Naik 2 Kali Lipat, Asap Berasal dari Kebakaran Lokal
-
Di Tengah Gaung Erau dan IKN, Guru Kukar Didorong Adaptif Terhadap Teknologi