- Pengamat Kirdi Putra menyoroti respons Gubernur Kalimantan Timur Rudy Masud terkait polemik mobil dinas dan tim ahli.
- Kirdi menilai jawaban Rudy Masud tidak menyentuh substansi pertanyaan dan cenderung menghindari penjelasan konkret terkait anggaran negara.
- Perubahan gestur serta ekspresi wajah Rudy Masud saat diwawancarai pada 31 Maret 2026 mengindikasikan adanya tekanan psikologis.
SuaraKaltim.id - Respons Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Masud, terhadap polemik mobil dinas dan tim ahli menuai sorotan. Pengamat komunikasi Kirdi Putra menilai jawaban yang disampaikan belum menyentuh substansi, meski disampaikan dengan lancar dalam sesi tanya jawab dengan wartawan.
Kirdi mengulas cara seorang pejabat publik merespons pertanyaan media dalam sejumlah rekaman video yang beredar. Dari perubahan ekspresi wajah hingga pola penyampaian jawaban, Kirdi juga mengamati perubahan ekspresi dan gestur selama wawancara.
Namun, ia menekankan bahwa interpretasi terhadap bahasa tubuh bersifat indikatif dan tidak dapat dijadikan kesimpulan pasti terkait kondisi psikologis seseorang.
Pada awal interaksi, pejabat tersebut tampil dengan sikap terbuka. Senyum dan gestur yang ditampilkan memberi kesan ramah di hadapan wartawan. Namun, suasana itu berubah ketika pertanyaan mulai menyentuh isu mobil dinas.
Ia menjelaskan bahwa perubahan tersebut merupakan respons spontan tubuh terhadap tekanan. Salah satu indikator yang ia amati adalah kebiasaan membasahi bibir sebelum menjawab.
“Dia kan ketika menghadapi teman-teman media awalnya dia tersenyum. Nah, di tengah pertanyaan ada pertanyaan tentang mobil, senyumnya tuh hilang. Sebelum menjawab dia basahin bibir dulu. Orang itu ketika stres, ketika jawab ditanya sebuah pertanyaan membuat dia agak stres, dia itu era bibir, rongga mulut dan tenggorokan itu jadi kering. Sehingga biasanya orang itu akan cenderung untuk membasahi bibir atau lebih sering menelan ludah,” kata Kirdi pada 31 Maret 2026 malam.
Secara fisiologis, saat seseorang merasa tertekan atau gugup, tubuh mengaktifkan respons "lawan atau lari" (fight-or-flight). Hal ini menyebabkan produksi air liur berkurang sehingga mulut dan bibir terasa kering.
Akibatnya, secara tidak sadar seseorang akan menjilat atau membasahi bibir untuk menghilangkan rasa kering tersebut sebelum mulai berbicara.
Menurutnya, pertanyaan yang diberikan wartawan dalam sesi wawancara atau yang biasa disebut “doorstop”, cukup memberikan efek stres secara ringan. Meski menunjukkan tanda ketidaknyamanan, Kirdi menilai pejabat tersebut tetap mampu menjaga kelancaran berbicara. Menurut dia, hal itu wajar mengingat latar belakang sebagai politikus yang terbiasa berkomunikasi di ruang publik.
Baca Juga: Mobil Dinas Gubernur Kaltim Miliaran, Prabowo Singgung Infrastruktur Memprihatinkan
“Dia cukup sadar kok bahwa apa yang dia sampaikan itu blunder menurut saya ya. Sehingga dia berusaha untuk mencari jalan keluar dari situ,” ujarnya.
Dalam beberapa bagian, ada juga jeda yang diberikan sebelum memberikan jawaban kepada pertanyaan wartawan. Ia menilai jeda tersebut sebagai upaya untuk menyusun kalimat secara hati-hati agar tidak menimbulkan persoalan baru. Namun, fokus utama Kirdi justru pada substansi jawaban yang diberikan. Ia menilai beberapa respons tidak langsung menjawab pertanyaan, melainkan bergerak ke arah lain yang kurang relevan.
“Jeda itu tanda dia berpikir. Artinya bahwa, dia sedang memikirkan baik-baik jawaban yang mau diberikan karena memberikan jawaban yang sembarang, malah kejadian kayak ada menteri yang suruh matiin kompor setelah selesai masak itu. Jadinya kan jadi bahan cemilan netizen nantinya,” tuturnya.
Salah satu contoh yang ia soroti adalah ketika pejabat tersebut diminta menjelaskan kritik terkait jumlah tim ahli yang dinilai terlalu besar. Alih-alih merinci komposisi atau urgensi tim, jawaban justru mengarah pada perbandingan anggaran dengan total APBD.
“Kalau ditanya kenapa jumlahnya besar, seharusnya dijelaskan siapa saja yang terlibat dan apa fungsinya. Bukan cuman bandingin bahwa ini (TAGUPP) kecil. Lah, itu logical fallacy namanya,” tegasnya.
Sebagai informasi, Pembentukan tim ini disebut sebagai langkah strategis untuk memperkuat perumusan kebijakan daerah, sekaligus mendorong optimalisasi kinerja pemerintahan di berbagai sektor prioritas. Proses pembentukannya cukup memakan waktu. Hampir satu tahun, draft formasi tim ahli gubernur ini selesai.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
Terkini
-
Gubernur Rudy Mas'ud Jawab Isu Pemberhentian PPPK di Tengah Efisiensi
-
Kapolda Kaltim Sebut Kasatnarkoba Kukar Diamankan Terkait Kasus Narkotika
-
Akademisi Kritik Insiden LCC Empat Pilar MPR: Stop Bikin Siswa Jadi Mesin Fotokopi
-
Penerima Bansos Disabilitas di Kaltim Dikurangi, dari 6.000 Peserta Jadi 500 Orang
-
Tokoh Masyarakat Kawal Hak Angket, Evaluasi Kinerja Gubernur Rudy Mas'ud