- Warga di luar Kaltim dilarang mengomentari permasalahan di provinsi tersebut.
- Pernyataan itu menuai sorotan publik, salah satunya akademisi Kampus Mulawarman.
- Dia menyebut membatasi kritik hanya warga lokal dianggap tidak memahami hak sipil.
"Jadi iblis sekalipun yang berkomentar, kalau komentarnya punya aspek penting untuk kita pelajari, kita bisa menerima dengan lapang dada dong. Kan itu prinsipnya, jadi bukan perkara siapa yang berkomentar tetapi apa isi komentarnya," ujarnya.
Pernyataan ini menekankan pentingnya pemisahan antara pesan dan penyampai pesan dalam ruang publik.
Dalam konteks ini, Herdiansyah mengingatkan bahwa kualitas argumen harus menjadi fokus utama dalam merespons kritik, bukan latar belakang individu yang menyampaikannya.
Fenomena pembatasan kritik ini, jika ditelusuri lebih jauh, menunjukkan adanya kecenderungan defensif dalam merespons masukan publik.
Sikap defensif tersebut, menurut sejumlah pengamat, sering kali muncul ketika kritik dianggap sebagai ancaman terhadap legitimasi atau kinerja pihak tertentu.
Namun, Herdiansyah menilai bahwa respons semacam itu justru kontraproduktif. Alih-alih memperbaiki substansi kebijakan atau menjawab kritik secara argumentatif, pembatasan kritik hanya akan mempersempit ruang dialog dan menghambat proses evaluasi.
Ia menegaskan bahwa kritik seharusnya dipandang sebagai bagian dari mekanisme kontrol dalam demokrasi. Tanpa kritik, proses perbaikan kebijakan akan kehilangan salah satu sumber masukan yang penting.
"Jadi mau siapapun yang berkomentar, kalau komentarnya memberikan pesan dan logis, bisa kita terima, bermakna sebagai otokritik, ya terima saja dengan terbuka," kata Herdiansyah.
Dalam konteks ini, istilah otokritik menjadi penting. Herdiansyah menilai bahwa kemampuan untuk menerima kritik merupakan indikator kedewasaan dalam berdemokrasi. Sebaliknya, sikap reaksioner terhadap kritik justru menunjukkan lemahnya kapasitas refleksi.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat maupun pejabat publik tidak mudah terpancing untuk merespons kritik secara emosional. Reaksi yang berlebihan terhadap kritik, menurutnya, hanya akan memperkeruh suasana dan mengalihkan perhatian dari substansi persoalan.
"Enggak perlu reaksioner," ujarnya.
Jika dilihat dari dinamika yang berkembang, polemik ini tidak berdiri sendiri. Dalam beberapa kasus, muncul kecenderungan serupa di berbagai daerah, di mana kritik dari luar wilayah kerap dianggap tidak relevan atau bahkan tidak berhak disampaikan.
Padahal, dalam sistem negara kesatuan, isu publik di satu daerah sering kali memiliki implikasi yang lebih luas. Kebijakan di tingkat daerah dapat berdampak pada kepentingan nasional, baik secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan.
Dengan demikian, pembatasan kritik berdasarkan wilayah justru berpotensi menghambat aliran informasi dan perspektif yang diperlukan untuk memahami persoalan secara komprehensif.
Herdiansyah tidak secara eksplisit menyebut pihak yang mengeluarkan pernyataan tersebut. Namun, kritik yang ia sampaikan mengarah pada pentingnya menjaga ruang publik yang inklusif dan terbuka.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Sabun Cuci Muka dengan Kolagen untuk Kencangkan Wajah, Bikin Kulit Kenyal dan Glowing
- Tak Perlu Mahal! Ini 3 Mobil Bekas Keluarga yang Keren dan Nyaman
- Dapat Status Pegawai BUMN, Apa Saja Tugas Manajer Koperasi Merah Putih?
- 5 HP Xiaomi yang Awet Dipakai Bertahun-tahun, Performa Tetap Mantap
- Oki Setiana Dewi Jadi Kunci Kasus Pelecehan Syekh Ahmad Al Misry Terbongkar Lagi, Ini Perannya
Pilihan
-
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, IRGC: Amerika Serikat Perompak!
-
Selat Hormuz Kembali Ditutup? Iran Dituding Tembak Kapal Tanker di Dekat Oman
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
Terkini
-
Demo Samarinda 21 April Soroti Isu KKN, Polisi Kerahkan 1.700 Personel Gabungan
-
Polemik Mobil Dinas Wali Kota Samarinda: Cacat Kontrak, Pemkot Audit Internal
-
Waga non Kaltim Tak Boleh Nyinyiri Rudy Mas'ud, Pakar Komunikasi: Fenomena Defensif
-
Warga Luar Kaltim Dilarang Mengkritik, Akademisi: Pernyataan Terlalu Sempit
-
GoPay Bisa Tarik Tunai di ATM BRI dan CRM, Ini Panduan Lengkapnya