- DPRD Samarinda menyoroti pengalihan beban BPJS PBI dari Provinsi ke Kota.
- Anggota DPRD menegaskan persoalan ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.
- Dia berharap, adanya komunikasi intensif antara pemprov dan pemkot.
SuaraKaltim.id - DPRD Samarinda menyoroti isu pengalihan pembiayaan jaminan kesehatan bagi 49 ribu peserta BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) dari Pemprov kepada kabupaten dan kota.
Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Anhar mendesak Pemprov Kalimantan Timur (Kaltim) segera membuat solusi konkret agar masyarakat tidak dirugikan.
"DPRD mendesak agar pemerintah segera merumuskan solusi konkret guna mencegah terputusnya layanan kesehatan bagi masyarakat prasejahtera," katanya dikutip dari Antara, Sabtu (2/5/2026).
Anhar menegaskan bahwa persoalan ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut dalam polemik kebijakan antara Pemprov Kaltim dan Pemkot Samarinda.
"Ini bukan saatnya untuk saling debat, tapi cari solusi. Prioritas utama kita adalah keselamatan dan jaminan kesehatan masyarakat," jelasnya.
Diketahui, persoalan ini bermula dari rencana pengalihan beban pembiayaan 49 ribu warga Samarinda yang sebelumnya ditanggung oleh Pemprov Kaltim ke pundak APBD Kota.
Bagi DPRD, angka ini sangat signifikan mengingat total peserta PBI di Kota Tepian saat ini mencapai hampir 300 ribu jiwa, atau sekitar 36 persen dari total populasi.
"Sebanyak 49 ribu itu bukan angka kecil. Mereka adalah kelompok prasejahtera yang hidupnya sangat bergantung pada jaminan kesehatan dari pemerintah. Kebijakan apa pun yang diambil harus memikirkan dampak langsung bagi kelompok rentan ini," tambah Anhar.
Secara hitung-hitungan, jika Pemkot Samarinda harus menanggung penuh sisa peserta tersebut, dibutuhkan tambahan anggaran sekitar Rp26 miliar per tahun.
Tantangannya, kondisi fiskal daerah saat ini sedang tidak dalam posisi ideal akibat adanya penyesuaian nilai transfer dari pemerintah pusat.
Anhar mengakui bahwa kondisi keuangan daerah sedang "tertekan", namun mengingatkan bahwa kesehatan adalah hak dasar yang dijamin undang-undang.
"Kondisi keuangan memang sedang sulit, tapi ini menyangkut hak hidup orang banyak. Pemerintah harus tetap menempatkan sektor kesehatan di atas kepentingan lainnya," imbuhnya.
Anhar berharap, adanya komunikasi intensif tingkat tinggi antara pemprov dan pemkot. Pihak legislatif berharap Pemprov Kaltim tidak menghentikan pembiayaan secara mendadak tanpa adanya skema transisi yang matang.
"Masa tidak ada jalan keluar? Angka Rp26 miliar itu jika dibicarakan bersama antara provinsi dan kota, seharusnya bisa ketemu solusinya. Koordinasi lintas pemerintahan adalah kunci agar pelayanan kesehatan tidak lumpuh," tegasnya.
Sebagai bentuk dukungan nyata, DPRD Samarinda menyatakan kesiapannya untuk melakukan rasionalisasi atau penyesuaian anggaran pada APBD murni maupun perubahan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
- Cara Aktifkan Fitur End-to-End Encryption WhatsApp, Pastikan Obrolan Rahasiamu Bebas Sadap
- Sejumlah Jenderal Diperiksa Propam, Ini Respons Mabes
- Jenderal Listyo Sigit Prabowo Ditetapkan Tersangka Penyadapan Presiden Prabowo
- Jokowi: Saya Disadap, Tapi Saya Diam Saja
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa POM TNI, Soal Penyadapan Prabowo?
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
Demo di Kaltim Memanas, Massa Lempar Sayuran Busuk ke Kantor Rudy Mas'ud
-
Remaja 13 Tahun asal Samboja Jadi Korban ke-57 Tewas di Lubang Tambang
-
Daftar 3 Prajurit TNI Gugur, Korban Helikopter Jatuh saat Padamkan Karhutla
-
Tiga Prajurit TNI Gugur dalam Kecelakaan Helikopter saat Misi Karhutla di Kalteng
-
Massa Kembali Demo di Kantor Gubernur Kaltim, Rudy Mas'ud ke Jakarta