Eko Faizin
Kamis, 07 Mei 2026 | 15:22 WIB
DPMPTSP Kota Bontang, Kalimantan Timur mencatat realisasi investasi mencapai Rp3,08 triliun. [Ist]
Baca 10 detik
  • Realisasi investasi Kota Bontang 2025 mencapai Rp3,08 triliun.
  • Kinerja tersebut melampaui target dan menunjukkan tren positif.
  • Capaian itu meningkat 13,66 persen dibanding tahun sebelumnya.

SuaraKaltim.id - Kinerja investasi Kota Bontang sepanjang 2025 melampaui target yang ditetapkan pemerintah daerah. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang mencatat realisasi investasi mencapai Rp3,08 triliun atau 123,23 persen dari target Rp2,5 triliun.

Capaian itu juga meningkat 13,66 persen dibanding realisasi investasi tahun sebelumnya. Lonjakan investasi tersebut memperlihatkan masih kuatnya posisi Bontang sebagai salah satu kawasan industri utama di Kalimantan Timur.

Kota ini sejak lama menjadi basis industri pengolahan, terutama sektor petrokimia dan pupuk, yang menopang aktivitas ekonomi daerah sekaligus menarik arus modal dalam negeri.

Kepala DPMPTSP Kota Bontang Muhammad Aspian Nur mengatakan capaian tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap iklim usaha di daerah itu.

Pemerintah daerah, kata dia, berupaya menjaga kepastian layanan dan kemudahan berusaha agar investasi terus tumbuh.

"Realisasi investasi tahun 2025 yang melampaui target ini menunjukkan bahwa Kota Bontang semakin dipercaya oleh investor, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Ini adalah hasil kerja bersama dalam menciptakan kemudahan berusaha dan kepastian layanan," ujarnya.

Data DPMPTSP menunjukkan investasi sepanjang 2025 masih didominasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Nilainya mencapai Rp3,026 triliun atau hampir seluruh total realisasi investasi. Sementara Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat sebesar Rp54,11 miliar.

Dominasi PMDN menunjukkan geliat investasi domestik masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Bontang.

Di tengah perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian pasar internasional, investor dalam negeri tampak tetap agresif mengembangkan usaha di sektor industri pengolahan dan perdagangan.

Meski kontribusinya jauh lebih kecil, PMA tetap dinilai memiliki peran strategis, terutama dalam pengembangan sektor jasa dan properti.

Kehadiran investasi asing dianggap dapat memperluas diversifikasi ekonomi Bontang yang selama ini identik dengan industri besar berbasis sumber daya alam.

Realisasi investasi tersebut berasal dari 323 proyek yang dijalankan oleh 81 pelaku usaha non-UMKM. Jumlah proyek itu memperlihatkan aktivitas investasi di Bontang berlangsung cukup dinamis dan tidak hanya bertumpu pada satu sektor usaha.

Namun, pemerintah daerah masih menghadapi tantangan dalam aspek pelaporan kegiatan penanaman modal. Tingkat kepatuhan pelaporan LKPM atau Laporan Kegiatan Penanaman Modal pada 2025 tercatat baru mencapai 43,69 persen.

Persentase tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena pelaporan investasi merupakan salah satu instrumen penting dalam pemetaan pertumbuhan ekonomi dan evaluasi kebijakan investasi.

Dari sisi PMA, sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran menjadi penyumbang terbesar realisasi investasi asing. Selain itu, sektor hotel dan restoran juga mulai menunjukkan pertumbuhan.

Masuknya investasi pada sektor properti dan hospitality menandakan adanya perkembangan ekonomi di luar sektor industri berat.

Bontang yang selama ini dikenal sebagai kota industri mulai memperlihatkan potensi pertumbuhan sektor jasa dan pendukung perkotaan.

Pertumbuhan hotel dan restoran misalnya, tidak dapat dilepaskan dari meningkatnya mobilitas tenaga kerja, aktivitas bisnis, hingga kebutuhan penunjang industri di daerah tersebut. Kondisi itu memperlihatkan bahwa aktivitas ekonomi di Bontang mulai bergerak lebih luas.

Sementara pada PMDN, sektor industri pengolahan mendominasi struktur investasi. Industri kimia dasar, barang kimia, dan farmasi menjadi penyumbang terbesar dengan porsi mencapai 85,96 persen.

Setelah itu disusul sektor perdagangan dan reparasi sebesar 5,18 persen, industri logam dasar dan barang logam bukan mesin sebesar 3,16 persen, usaha jasa lainnya sebesar 2,32 persen, serta hotel dan restoran sebesar 1,12 persen.

Besarnya kontribusi industri kimia memperlihatkan bahwa Bontang masih sangat bergantung pada sektor industri pengolahan. Hal ini sejalan dengan keberadaan sejumlah industri besar yang telah lama beroperasi di kota tersebut dan menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

Selain didukung industri besar, ekosistem penunjang seperti logistik, jasa perdagangan, hingga sektor pendukung lainnya turut memperkuat daya tarik investasi Bontang.

Infrastruktur kawasan industri dan posisi geografis yang strategis di Kalimantan Timur juga menjadi faktor penunjang.

Meski investasi tumbuh signifikan, distribusinya antarwilayah di Bontang masih belum merata. DPMPTSP mencatat mayoritas investasi terkonsentrasi di Kecamatan Bontang Utara dengan nilai mencapai Rp1,17 triliun atau sekitar 98,94 persen dari total investasi.

Sementara itu, investasi di Bontang Barat tercatat Rp9,36 miliar atau 0,79 persen. Adapun Bontang Selatan hanya memperoleh investasi Rp3,20 miliar atau sekitar 0,27 persen.

Konsentrasi investasi di Bontang Utara memperlihatkan kawasan tersebut masih menjadi pusat utama aktivitas ekonomi dan industri. Di sisi lain, wilayah lain dinilai masih memiliki ruang pengembangan yang cukup besar.

Ketimpangan distribusi investasi itu menjadi salah satu pekerjaan rumah pemerintah daerah. Sebab, pemerataan investasi dinilai penting untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan mengurangi kesenjangan antarwilayah.

Muhammad Aspian Nur mengatakan pemerintah daerah tidak hanya berfokus mengejar angka investasi, tetapi juga kualitas dan pemerataan investasi di seluruh wilayah kota.

"Kami tidak hanya fokus pada peningkatan angka investasi, tetapi juga pada kualitas dan pemerataan investasi. Ke depan, kami akan memperkuat promosi potensi wilayah serta meningkatkan pelayanan perizinan yang lebih cepat, transparan, dan terintegrasi," jelasnya.

Menurut dia, penguatan sistem pelayanan perizinan menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kepercayaan investor.

Pemerintah daerah juga berupaya memperbaiki pengawasan terhadap pelaku usaha, termasuk meningkatkan kepatuhan pelaporan LKPM.

Ia menambahkan, kualitas data investasi sangat penting dalam penyusunan kebijakan ekonomi daerah. Karena itu, pengawasan terhadap kewajiban pelaporan investasi akan terus diperkuat.

Optimisme terhadap pertumbuhan investasi di Bontang juga tidak terlepas dari posisi Kalimantan Timur sebagai daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).

Kehadiran IKN diperkirakan akan meningkatkan aktivitas ekonomi regional, termasuk kebutuhan sektor industri, jasa, logistik, dan perdagangan.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah di Kalimantan Timur memang berlomba memperbaiki iklim investasi guna menarik arus modal baru.

Persaingan antardaerah semakin ketat, terutama dalam menyediakan kepastian hukum, kemudahan perizinan, serta kesiapan infrastruktur.

Bontang dinilai memiliki peluang besar karena telah memiliki basis industri yang kuat dibanding sejumlah daerah lain.

Namun tantangan tetap ada, terutama terkait diversifikasi ekonomi agar tidak terlalu bergantung pada sektor tertentu.

Dengan capaian investasi yang melampaui target pada 2025, pemerintah daerah berharap tren positif tersebut terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan.

Pertumbuhan investasi diharapkan tidak hanya meningkatkan pendapatan daerah, tetapi juga membuka lapangan kerja dan memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat.

Begitulah manusia bekerja. Ketika angka investasi naik, semua orang bicara optimisme. Ketika distribusinya timpang, baru sadar pembangunan ternyata tidak otomatis merata. Ekonomi memang gemar tumbuh di tempat yang sudah lebih dulu tumbuh.

Load More