Eko Faizin
Rabu, 23 September 2026 | 09:37 WIB
Di tengah gaung Erau dan IKN, 128 guru di Kukar mengikuti workshop bertajuk From Smart Board to Smart Learning. [Suara.com/Denada S Putri]
Baca 10 detik
  • ITB mengadakan workshop pemanfaatan papan interaktif digital bagi 128 guru dan kepala sekolah di Kukar pada 2025.
  • Pemerintah telah menyalurkan 3.900 unit papan interaktif digital untuk memperkuat transformasi pendidikan di sekolah-sekolah Kaltim.
  • Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kemampuan guru menggunakan teknologi demi mendukung kesiapan SDM di wilayah penyangga IKN.

Distribusi perangkat tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses sekolah terhadap teknologi pembelajaran. Namun, menurut Wiwik, ketersediaan perangkat harus diikuti dengan kemampuan guru dalam menggunakannya secara kreatif.

"Pak Presiden sendiri memang ingin menambah. Tahun 2025 kemarin setiap sekolah mendapatkan minimal satu unit tanpa membedakan sekolah negeri maupun swasta. Kemudian ke depan juga ingin menambah dua unit lagi untuk setiap sekolah," kata dia.

Wiwik mengakui pemanfaatan PID di sejumlah sekolah masih terbatas pada penggunaan teknologi yang bersifat satu arah.

"Sebagian masih menggunakan PowerPoint atau langsung mengakses YouTube dan Google. Padahal bagaimana menciptakan pembelajaran interaktif dengan memanfaatkan PID itu yang perlu terus didukung. Karena itu pengabdian masyarakat dari ITB ini sangat membantu kami," ujarnya.

Guru Kukar Disiapkan Hadapi Era IKN

Penguatan kapasitas guru juga mendapat perhatian dari Anggota Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian.

Ia mengatakan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), perlu ditempatkan sebagai bagian dari peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

"AI sekarang sebenarnya bisa digunakan sebagai asisten guru. Karena AI berkembang begitu pesat, maka kita harus terus meningkatkan dan mengasah keterampilan menggunakannya sebagai asisten dalam proses pembelajaran," kata Hetifah.

Menurutnya, AI tidak semestinya hanya dipandang dari sisi kekhawatiran terhadap plagiarisme maupun berkurangnya kemampuan berpikir peserta didik.

"Padahal justru sebaliknya. AI bisa digunakan untuk menciptakan berbagai konten yang meningkatkan kerja sama, meningkatkan partisipasi, dan membuat pembelajaran lebih interaktif. Guru guru tentu harus menguasai cara menggunakannya sekaligus mengetahui hal hal yang harus dihindari," ujarnya.

Hetifah juga menekankan bahwa perkembangan teknologi tidak berarti menghilangkan posisi guru dalam pendidikan.

"Guru guru jangan khawatir bahwa fungsinya akan tergantikan oleh AI. Guru yang tidak menggunakan AI tidak akan bisa menyaingi guru yang menggunakan AI. Guru yang menggunakan AI akan lebih disukai oleh anak anak," katanya.

Menurut Hetifah, kebutuhan terhadap guru yang adaptif terhadap teknologi menjadi semakin relevan bagi Kukar karena posisinya yang berada di sekitar kawasan IKN.

Ia menilai pembangunan IKN dengan konsep kota cerdas membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan untuk mengikuti perkembangan teknologi.

"Dengan adanya IKN yang akan menjadi smart city, maka Kutai Kartanegara harus memberikan yang terbaik untuk bisa berkontribusi terhadap pengembangan Kalimantan Timur dan IKN," ujarnya.

Load More