Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Sudah 35 Ojol di Samarinda Jadi Korban Orderan Fiktif Polisi Gadungan

Eko Faizin Minggu, 25 Oktober 2020 | 19:37 WIB

Sudah 35 Ojol di Samarinda Jadi Korban Orderan Fiktif Polisi Gadungan
Ilustrasi ojek online. (Suara.com/Ema Rohimah)

Pasalnya di Polsek Samarinda Kota tak ada satupun petugas yang bernama Wijaya.

SuaraKaltim.id - Dwi Muhammad Soleh (31) sudah tiga tahun bekerja sebagai petugas security, di salah satu mal yang ada di Samarinda.

Dua hari belakangan ini, Soleh harus mencari penghasilan yang lebih, di luar gaji dari profesinya tersebut. Hal itu dilakukan, guna membiayai pengobatan sang ayah, yang saat ini sedang dirawat di rumah sakit.

Namun nasib apes harus dialaminya. Di hari kedua bekerja sebagai driver ojek online (ojol), Soleh malah merugi. Hal ini terjadi setelah dirinya menerima orderan fiktif dari seorang costomer yang mengaku sebagai anggota polisi bernama Wijaya dan bertugas Polsek Samarinda Kota.

Peristiwa tak mengenakan itu dialami Soleh pada Minggu siang (25/10/2020) tadi.

Soleh nampak mondar-mandir dilorong Polsek Samarinda Kota, sembari menenteng pesanan costumer tersebut. Dari setiap ruangan yang didatanginya, tak ada satupun polisi yang mengaku telah memesan minuman dan makanan ringan melalui aplikasi ojol.

Dengan mata berkaca-kaca, Soleh pun hanya bisa terduduk sambil menghela nafasnya ketika seorang petugas polisi mengatakan kepadanya, bahwa dirinya telah tertipu. Pasalnya di Polsek Samarinda Kota tak ada satupun petugas yang bernama Wijaya.

Selain itu, Soleh juga tak dapat lagi menghubungi customer tersebut karena diblokir oleh pelaku. Akibat kejadian ini, Soleh pun merugi senilai Rp 200 ribu. Lantaran telah membelikan pesanan customer sesuai orderan yang masuk dipesan aplikasi ojol miliknya.

"Tadi saya terima orderan, ngakunya polisi bernama Wijaya, tugasnya disini (Polsek Samarinda Kota). Minta dibelikan pulsa juga. Hampir Rp 200 ribu modal saya dari ngutang sama tetangga, ya hilang sudah," ucapnya dengan suara lirih.

Soleh mengaku hanya bisa pasrah setelah mengalami kerugian akibat orderan fiktif. Dirinya pun berencana melaporkan kejadian itu ke pihak perusahaan ojol yang menaunginya untuk kemudian melaporkannya ke Aparat Kepolisian.

"Saya baru dua hari kerja sampingan jadi ojol. Buat tambahan biaya bapak lagi dirawat di rumah sakit. Jadi ngga tau kalau bisa sampai tertipu begini," lanjutnya.

Komentar

Berita Terkait