"Saya sehari itu hanya dapat tidak menentu. Kalau pas hari libur bisa sampai Rp 200-500 ribu. Tapi kalau hari biasa yah paling tidak Rp 100 ribu udah lumayan sekali," sambungnya.
Dirinya berharap agar Pemkot Bontang bisa memfasilitasi bangunan lapak yang layak huni dan berjualan. Bagaimanapun dengan menjual pusat oleh-oleh Kota Bontang menjadi tumpuan utama untuk mencari rezeki hidup.
"Kalau misalnya dikasih ruko gratis saya senang sekali. Apalagi yang kami jual ini kan khas Bontang. Dari dulu tidak ada perkembangan begini-begini saja ruko saya," tuturnya.
Kondisi yang sama juga dirasakan pedagang oleh-oleh khas Bontang lainnya bernama Sumiati. Perempuan berumur 54 tahun itu harus ekstra hati-hati berjualan saat kondisi ruko terendam setiap kali banjir rob.
Baca Juga:Suhu Panas Terjang Bekasi, Pedagang Es Batu Panen Cuan: Bisa Dapat Omset Jutaan per Bulan
Lapak yang disewa dengan harga Rp 800 ribu per bulan ini hanya memiliki plafon dari terpal. Itu pun saat hujan tidak jarang meneteskan air karena bocor.
Harapan yang sama juga muncul dari pedagang yang sudah berjualan selama 18 tahun ini. Dimana Pemkot Bontang harusnya lebih perhatian untuk bisa memberikan sarana dan prasarana pedagang untuk berjualan.
Usaha Sumiati juga tidak jauh berbeda dengan pedagang lainnya. Dimana yang dijual pedagang lainnya. Misalnya seperti jajanan ikan kering, terasi, pepik, rumput laut, ikan tenggiri asin, dan yang lainnya.
Harga jual juga bervariasi mulai dari Rp 15-150 ribuan. Disinggung soal pendapatan Sumiati mengaku tidak menentu. Dirinya bilang cukup untuk lebituhan sehari-hari dan membayar sewa lapaknya.
"Kita sudah lama berjualan disini. Tapi kok yah lapak kami dibiarkan menyewa dan tidak sapat fasilitas. Padahal Bontang Kuala ini destinasi wisata," terang Sumiati.
Lapaknya pun juga sedikit tertutupi dengan tulisan I Love Bontang Kuala. Kadang juga para pendatang melewati lapaknya dan memilih langsung masuk kedalam kampung diatas air.