Akademisi Kritik Insiden LCC Empat Pilar MPR: Stop Bikin Siswa Jadi Mesin Fotokopi

Ridho menilai kasus itu tidak cukup dibaca sebagai persoalan teknis lomba semata.

Eko Faizin
Minggu, 17 Mei 2026 | 10:03 WIB
Akademisi Kritik Insiden LCC Empat Pilar MPR: Stop Bikin Siswa Jadi Mesin Fotokopi
Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI. [Dok. Tim Media MPR RI]
Baca 10 detik
  • Insiden LCC Empat Pilar MPR mendapat kritik dari akademisi UINSI Samarinda.
  • Dia menilai pendidikan seharusnya tak membentuk siswa seperti mesin fotokopi.
  • Proses belajar perlu memberi ruang bagi pemahaman, nalar kritis siswa.

SuaraKaltim.id - Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI belakangan viral di media sosial lantaran adanya anulir jawaban dari dewan juri.

Insiden tersebut memantik kritik dari akademisi pendidikan UIN Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Dr Muhammad Ridho Muttaqin.

Dosen UINSI itu menilai pendidikan seharusnya tidak membentuk siswa seperti mesin fotokopi.

"Stop bikin siswa jadi mesin fotokopi," ujar Ridho mengutip Kaltimtoday--jaringan Suara.com.

Menurutnya, kasus LCC Empat Pilar dinilai menjadi refleksi atas sistem evaluasi yang masih terlalu menekankan hafalan, artikulasi, dan kesesuaian dengan kunci jawaban.

Proses belajar perlu memberi ruang bagi pemahaman, nalar kritis, dan kemampuan siswa dalam menjelaskan substansi jawaban.

Insiden ini ramai dibicarakan setelah peserta lomba memprotes keputusan juri karena merasa jawabannya memiliki substansi yang sama dengan regu lain.

Dalam video yang beredar, peserta menyampaikan jawaban mengenai pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan diresmikan oleh Presiden.

Namun, jawaban itu dinilai salah oleh juri sehingga peserta mendapat pengurangan nilai. Peserta kemudian mengajukan keberatan karena merasa jawaban serupa dari regu lain justru dinyatakan benar oleh dewan juri.

Dalam tanggapan juri yang terekam dalam video, persoalan tersebut dikaitkan dengan kejelasan artikulasi jawaban peserta.

Juri menyebut artikulasi penting dalam perlombaan dan keputusan penilaian tetap berada sepenuhnya pada otoritas dewan juri.

Ridho menilai kasus itu tidak cukup dibaca sebagai persoalan teknis lomba semata.

Ia menjelaskan, insiden tersebut menunjukkan masih kuatnya cara pandang pendidikan yang terlalu kaku dalam menilai jawaban siswa.

Ridho menyebut evaluasi pendidikan seharusnya tidak hanya mengukur kesesuaian kata demi kata dengan kunci jawaban. Substansi pemahaman siswa juga perlu mendapat tempat yang adil dalam proses penilaian.

"Belajar itu harusnya meaningful, bukan cuma rote learning atau hafal mati demi validasi dewan juri," katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini