SuaraKaltim.id - Bangga, itulah yang dirasakan Eng Doq ketika mengenalkan Potensi dayak Wehea pada ajang Kaltim Expo 2020 di Big Mall, Samarinda.
Eng Doq merupakan Duta Wehea dari Desa Nehas Liah Bing, Muara Wahau, Kutai Timur (Kutim).
Dia merupakan anak Dayak Wehea yang dikenal dengan kearifan lokal dan bersatu dengan alam.
Meski berwajah tampan, Eng Doq ternyata masih melakukan ritual keseharian Warga Wehea. Yakni berkebun dan bertanam yang merupakan cara Suku Dayak Wehea menyapa alam.
Ditemui di Expo Big Mall, Eng Doq tampak gagah menggunakan pakaian kebesaran Suku Dayak Wehea. Masyarakat antusias mengajak dia berfoto, karena pakaian yang dia gunakan berbeda dengan suku-suku dayak yang lain.
Datang bersama PT RHOI dan Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS), Eng Doq mengajak masyarakat untuk mengenal tradisi Wehea dan satwa langka orangutan yang terancam punah.
“Saya ke sini bersama PT RHOI dan Yayasan BOS. Tugas saya adalah mengenalkan potensi Suku Dayak Wehea dan mengajak masyarakat kaltim menyelamatkan orangutan. Saya bangga, karena saya diberi tugas yang memang menjadi warisan leluhur kami,” kata dia.
Sejak didaulat menjadi Duta Wehea, Eng Doq mulai menjajaki ilmu publikasi secara online. Meski rumahnya terletak di pedalaman Kalimantan Timur (Kaltim), namun dia giat menginformasi beragam kearifan lokal Dayak Wehea.
Menurutnya, tak akan habis cerita jika membahas kehidupan Suku Dayak Wehea.
Baca Juga: Tak Punya Uang Beli Kado, Seorang Ayah di Kutim Nekat Curi HP untuk Anaknya
“Ada banyak produk seni dan adat Dayak Wehea yang perlu kami tunjukkan kepada masyarakat luas. Kami memiliki Lembaga Adat, tari-tarian, hasil kerajinan tangan yang bagus dan kuat, juga punya kamus bahasa Dayak Wehea yang disusun bersama-sama dengan teman-teman dari program RHO-Yayasan BOS,” jelasnya.
Diketahui, Dayak Wehea merupakan salah satu sub Suku Dayak yang berada di Kaltim. Terdapat sekitar 6.000 jiwa suku Wehea yang tersebar dan mendiami enam desa di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Nama keenam desa tersebut adalah Bea Nehas, Diaq Lay, Dea Beq, Nehas Liah Bing, Diaq Leway, dan Long Wehea.
Nenek moyang suku Wehea diyakini telah mendiami wilayah Muara Wahau selama puluhan generasi dan bahkan diklaim sebagai sub Suku Dayak tertua yang mendiami wilayah tersebut. Menurut penuturan lisan, nenek moyang suku Wehea berasal dari Cina Daratan.
“Saat ini, masih belum banyak yang mengenal bagaimana kearifan lokal Dayak Wehea. Ketika ada yang datang, mereka akan menyebut Wehea adalah tempat yang damai. Karena kita manusia menyatu dengan alam,” sebutnya.
Masyarakat Dayak Wehea memiliki bahasa dan kepercayaan yang sama. Kehidupan sehari-hari mereka diliputi oleh tradisi dan kegiatan adat yang dilakukan setiap tahunnya.
Suku Wehea juga sangat menghargai dan menjunjung tinggi kegiatan berladang dan menanam padi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Haraku Ramen Samarinda Resmi Dibuka, Halal Mulai Rp25 Ribu
-
Dana Ilegal Tidak Mengalir ke Perbankan, Kejati Sebut Kerugian Negara Rp1,4 Triliun Dikembalikan
-
Pertamax Naik, Dapat Pertalite di Kota Minyak Semakin Sulit
-
Salahgunakan Pemberian KUR, Delapan Ibu-ibu di Samarinda Diamankan Kejaksaan
-
Kini Hindari Wawancara, Gaya Komunikasi Gubernur Rudy Mas'ud Jadi Sorotan