SuaraKaltim.id - Daya beli masyarakat Kota Bontang menurun selama 4 tahun terakhir. Pengamat Ekonomi Unmul Purwadi menyarankan, agar pemerintah perlu mengevaluasi belanja daerah agar lebih banyak dihabiskan di dalam kota.
Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Bontang rata-rata pengeluaran per kapita/kepala keluarga menurun sepanjang 4 tahun terakhir. Tren ini terlihat sejak 2020 lalu, rata-rata belanja rumah tangga sebanyak Rp 2,4 juta per bulan. Kemudian angka konsumsi rumah tangga turun di 2021 menjadi Rp 2.071.553.
Tren ini masih bertahan 2 tahun berikutnya, pada 2022 pengeluaran per kapita merosot menjadi Rp 2.023.331. Sedangkan, memasuki 2023 angkanya sedikit naik sekitar Rp 30 ribuan menjadi Rp 2.059.757.
Purwadi mengatakan, selain Covid-19 faktor utama daya beli masyarakat turun karena minimnya kegiatan yang berdampak pada sektor perputaran uang di dalam daerah.
Menurut Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unmul ini mencontohkan, salah satu pos belanja yang cukup besar namun banyak dihabiskan di luar kota, seperti kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) tahun anggaran 2024 ini.
Dari data yang dirangkum, sejumlah belanja pemerintah melalui Sistem Informasi Rencana Umum (Sirup) LKPP Bontang tahun anggaran 2024 ini khususnya untuk kegiatan Bimtek dengan pagu tiap kegiatan di atas Rp 80 juta rupiah.
Di laman ini tercatat Pemkot Bontang mengalokasikan belanja Bimtek sebanyak Rp 54 miliar yang tertuang dalam 222 kegiatan tersebar di sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Menurut Purwadi, anggaran besar yang digelontorkan ini justru tidak berputar di daerah dan hanya dirasakan kota tujuan. Seharusnya perputaran ekonomi di Bontang bisa pesat karena APBD meningkat dan merupakan kota industri.
"Ini harus jadi perhatian. 4 tahun ini berdasarkan data BPS daya beli masyarakat menurun. Tapi saya liat justru Pemkot mengadakan Bintek anggarannya besar. Sayangnya uang itu banyak berputar di luar daerah," ucap Purwadi, disadur dari KlikKaltim.com--Jaringan Suara.com, Senin (17/06/2024).
Baca Juga: Aroma Busuk Sampah di Pattimura Bontang Buat Pengguna Jalan Terancam, DLH Beri Efek Jera
Lebih lanjut, Pemkot Bontang diminta memperhatikan angka daya beli yang menurun ini. Kemudian dijadikan evaluasi program yang dirancang pada 2024 ini.
"Sudah saat nya berbenah. Sebelum dampaknya semakin terasa. Sekarang kegunaan APBD juga masih didominasi dengan belanja pegawai. Sedikit sekali yang menyentuh masyarakat," pungkasnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Total Dana Korban Penipuan Tembus Rp811,1 Miliar, Sebanyak 702.833 Rekening Diblokir
- Media Inggris: FIFA ASEAN Cup Akal-akalan Infantino Pertahankan Posisi, Prabowo Kena Prank
- Arti Mimpi Ketemu Orang yang Sudah Meninggal tapi Tidak Bicara Menurut Primbon Jawa
- Aliran Minyak di Selat Hormuz Sudah Normal, Mengapa Harga BBM Masih Mahal?
- Selamat Tinggal Kevin Diks, Cabut Lebih Cepat dari Skuad Timnas Indonesia Usai Juara
Pilihan
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
Terkini
-
Warga Kaltim Diminta Waspada Sakit ISPA dan Demam Berdarah
-
Dukung Gelaran MotoGP Mandalika Berkelanjutan, BRI Perkuat Waste Management Melalui BRI Peduli
-
BRI dan KPK Bersinergi Cetak Penyuluh Antikorupsi
-
Dana Karbon Rp73,2 Miliar Mengucur ke Kaltim untuk Pengurangan Emisi
-
2 Orang Utan Keluar Habitat Cari Makan Imbas Kemarau Ekstrem di Kaltim