SuaraKaltim.id - Penanggulangan Tuberkulosis Resisten Obat (TBC RO) kini makin difokuskan pada lini terdepan layanan kesehatan.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur (Kaltim) tengah memperkuat kapasitas tim pengobatan TBC RO di tingkat puskesmas melalui pelatihan dan kolaborasi lintas sektor.
Lokakarya peningkatan kapasitas ini digelar di Samarinda hingga 17 Mei 2025 dengan dukungan dari Global Fund.
Langkah ini merupakan bagian dari respons terhadap angka kasus TBC yang masih tinggi secara nasional.
Hal itu disampaikan Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, Kamis, 15 Mei 2025.
"Tuberkulosis masih menjadi tantangan kesehatan utama di Indonesia, termasuk Kaltim," ujar Jaya, disadur dari ANTARA, di hari yang sama.
Jaya menyampaikan bahwa lebih dari 800 ribu kasus TBC baru tercatat setiap tahun di Indonesia.
Oleh karena itu, percepatan dan perluasan layanan pengobatan, khususnya untuk kasus TBC RO, menjadi prioritas penting.
"Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan tim TBC RO di tingkat puskesmas dalam memulai pengobatan bagi pasien yang memenuhi kriteria, dengan berpedoman pada standar dan regulasi yang berlaku," lanjutnya.
Baca Juga: Fokus Penanganan Stunting, PPU Lampaui Target Nasional dengan Penurunan 11,55 Persen
Selain aspek medis, Dinkes juga menekankan pentingnya pendekatan berbasis pasien, termasuk dukungan psikososial dan pengawasan selama menjalani pengobatan.
Hal ini sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 dan pedoman teknis dari Kementerian Kesehatan.
Kegiatan ini turut melibatkan WHO Indonesia, Kemenkes, Laboratorium Rujukan Nasional, Labkesda Kaltim, serta komunitas penyintas TBC Wadah Etam, sebagai bentuk kolaborasi multisektor.
Peserta lokakarya berasal dari fasilitas layanan kesehatan yang sudah menyediakan layanan Pengobatan Multi-Drug Resistant Tuberculosis (PMDT), serta puskesmas terpilih di Samarinda, Balikpapan, dan Kutai Kartanegara (Kukar).
Jaya mengajak seluruh pihak untuk terlibat aktif demi mencapai target nasional keberhasilan pengobatan TBC RO sebesar 95 persen.
“Keberhasilan ini merupakan hasil dari upaya berkelanjutan dalam memastikan pasien TBC mendapatkan perawatan yang sesuai dan tepat waktu,” ucapnya.
Berdasarkan data terbaru, tingkat keberhasilan pengobatan TBC di Kaltim saat ini berada di angka 77,15 persen.
Dari 3.356 pasien yang menjalani pengobatan, sebanyak 1.896 telah menyelesaikan perawatan, 693 pasien dinyatakan sembuh, sementara sisanya masih dalam evaluasi.
Tercatat pula 152 kasus meninggal, 12 pasien gagal berobat, dan 286 putus pengobatan.
Dinkes Kaltim Genjot Strategi TBC, Kejar Target Keberhasilan di Atas 80 Persen
Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) terus memperkuat strategi layanan penanggulangan Tuberkulosis (TBC) menyusul capaian tingkat keberhasilan pengobatan yang masih berada di angka 77,15 persen berdasarkan data 2025 ini.
Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin menyampaikan, angka tersebut mencerminkan adanya efektivitas dalam pelaksanaan program, namun sekaligus menjadi pengingat pentingnya konsistensi dalam pengobatan dan pemantauan pasien.
Hal itu ia sampaikan saat berada di Samarinda, Kamis, 8 Mei 2025.
“Keberhasilan ini merupakan hasil dari upaya berkelanjutan dalam memastikan pasien TBC mendapatkan perawatan yang sesuai dan tepat waktu,” ujarnya saat ditemui, disadur dari ANTARA, Jumat, 9 Mei 2025.
Dari total 3.356 pasien yang menjalani pengobatan, sebanyak 1.896 berhasil menyelesaikan perawatan, 693 di antaranya dinyatakan sembuh.
Namun, tantangan masih ada—sebanyak 317 kasus masih dalam proses evaluasi, 286 pasien tercatat putus berobat, 12 gagal dalam pengobatan, dan 152 meninggal dunia.
Meski begitu, sejumlah daerah berhasil melampaui capaian provinsi.
Kabupaten Berau menjadi yang tertinggi dengan tingkat keberhasilan 90,8 persen, disusul Mahakam Ulu 90 persen, dan Bontang 81,32 persen.
Untuk meningkatkan hasil pengobatan, Jaya menekankan pentingnya deteksi dini serta peran aktif pasien dalam menjalani terapi hingga tuntas.
“Kami terus mendorong sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat agar penderita TBC tidak berhenti berobat sebelum dinyatakan sembuh,” katanya.
Sebagai langkah lanjutan, Dinkes Kaltim berfokus pada penguatan layanan, peningkatan pendampingan pasien, serta perluasan akses pengobatan yang berkelanjutan.
Selain itu, Dinkes Kaltim juga menggiatkan program penemuan aktif kasus TBC (active case finding) dan telah melakukan skrining terhadap 3.000 orang sejak awal tahun.
"Upaya ini kami harapkan dapat meningkatkan cakupan penemuan kasus dan pengobatan, sehingga target keberhasilan di atas 80 persen pada akhir tahun dapat tercapai," kata Jaya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Operasi Politik Presisi Prabowo: Preteli Siji-siji
- 9 Sunscreen untuk Mencerahkan Wajah dan Menghilangkan Flek Hitam
- Sehari Dijabat Suyudi Ario Seto, Polri Langsung Rombak 19 Kapolda: Ini Daftar Lengkapnya!
- Luky Alfirman Jadi Wamenkeu usai Dicopot Purbaya, Pengamat Soroti Arah Kebijakan Suahasil
- Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
Pilihan
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
Terkini
-
Dana Karbon Rp73,2 Miliar Mengucur ke Kaltim untuk Pengurangan Emisi
-
2 Orang Utan Keluar Habitat Cari Makan Imbas Kemarau Ekstrem di Kaltim
-
Antrean Panjang BBM di Kaltim, Jam Operasional SPBU Disebut Jadi Pemicu
-
Kaltim Hadapi Tantangan Backlog 591 Ribu KK, Program Rumah Subsidi Digenjot
-
BKSDA Kaltim Lepasliarkan Orang Utan yang Viral Melintas di Jalan