SuaraKaltim.id - Meski berhasil menekan drastis angka kasus malaria dalam dua tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur (Kaltim), mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi penyebaran penyakit ini.
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat, kasus malaria di PPU menurun tajam dari 1.315 kasus pada 2023 menjadi 558 kasus di tahun 2024, dan hingga awal Juli 2025 tinggal menyisakan 98 kasus.
Penurunan signifikan ini menempatkan PPU ke dalam status zona hijau penularan malaria.
Hal itu disampaikan Kepala Dinkes PPU, Jensje Grace Makisurat, Minggu, 8 Juni 2025.
"Pada 2024 masuk zona kuning dan pada tahun ini status zona hijau penularan malaria," katanya, disadur dari ANTARA, Senin, 9 Juni 2025.
Namun, ia menegaskan bahwa status zona hijau bukan berarti bebas dari ancaman.
Pihaknya terus mengingatkan warga untuk mengenali gejala awal malaria dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika merasakan tanda-tanda mencurigakan bagi daerah yang sebagian wilayahnya masuk Ibu Kota Nusantara (IKN) tersebut.
"Warga yang alami gejala awal malaria diminta segera periksa di layanan kesehatan terdekat agar bisa ditangani dan penularan dapat dicegah," ujarnya.
Gejala malaria, lanjut Jensje, meliputi demam, menggigil, kedinginan, mual, dan sakit kepala.
Baca Juga: Di Balik Hiruk Pikuk IKN, Budidaya Rumput Laut di PPU Terus Tumbuh
Jika ditemukan kasus positif, petugas kesehatan akan segera turun ke lapangan melakukan pemeriksaan aktif dari rumah ke rumah di radius 100 meter dari pasien untuk mencegah meluasnya penularan.
"Gejala awal malaria seperti demam, menggigil, kedinginan, mual, sakit kepala dan lainnya," tambahnya.
Penyakit ini sendiri disebabkan oleh infeksi parasit plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina.
Karena itu, pihak Dinas Kesehatan menerjunkan kader ke wilayah-wilayah rawan untuk melakukan skrining menyeluruh.
Selain deteksi dini, upaya pencegahan juga dilakukan dengan membagikan kelambu berinsektisida kepada warga di wilayah endemis, melalui jaringan puskesmas yang ada.
Sebagai catatan, meskipun masuk zona hijau, PPU masih menduduki posisi kedua tertinggi kasus malaria di Kaltim—hanya terpaut satu kasus dari Kutai Timur (Kutim) dan Berau yang masing-masing mencatatkan 99 kasus.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Pembagian Seragam Gratis Pemprov Kaltim Terlambat, Orangtua Terpaksa Beli Dulu
-
JPMorgan Berikan Validasi Atas BBRI, Kualitas Aset Membaik
-
Suara.com Audiensi dengan DPD RI Kaltim, Bahas Sinergi Publikasi dan Keterbukaan Informasi
-
KUR BRI Dukung Rosyidah Terus Kembangkan Usaha Olahan Hasil Laut di Indramayu
-
Strategi Dorong UMKM Desa Berkembang Melalui Peran Mantri BRI, Simak Kisah dari Sumatera Utara Ini