- Prudential menyampaikan jika industri asuransi kesehatan menghadapi tantangan kompleks.
- Sejumlah negara tengah mengalami kenaikan biaya rumah sakit dan obat-obatan.
- Di tengah kondisi tersebut, industri asuransi tetap menunjukkan pertumbuhan positif.
SuaraKaltim.id - Industri asuransi kesehatan di berbagai negara saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Di tengah dinamika ekonomi global, perubahan kebutuhan masyarakat, serta melonjaknya biaya layanan kesehatan, perusahaan asuransi dituntut menjaga keseimbangan antara perlindungan bagi nasabah dan keberlanjutan bisnis.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia.
Sejumlah negara di Asia seperti Singapura, Hong Kong, India, hingga Thailand mengalami kenaikan biaya rumah sakit dan obat-obatan yang jauh melampaui inflasi umum.
Kondisi serupa juga terjadi di Eropa dan Amerika Serikat, di mana populasi yang semakin menua dan meningkatnya penyakit kronis seperti diabetes serta penyakit jantung membuat klaim kesehatan terus meningkat.
Selain itu, kemajuan teknologi medis dan terapi terbaru memang memberikan peluang perawatan yang lebih baik bagi pasien.
Namun di sisi lain, inovasi tersebut turut mendorong kenaikan biaya pengobatan.
Indonesia menghadapi tren yang tidak jauh berbeda.
Berdasarkan data survei kesehatan dasar Direktorat Jenderal Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, prevalensi penyakit tidak menular di Indonesia terus meningkat setiap tahun.
Pada 2024, jumlah kasus penyakit kritis tercatat naik sekitar 11 persen, dari 29,7 juta menjadi 33 juta kasus.
Artinya, satu dari tiga orang dewasa di Indonesia berpotensi mengalami lebih dari satu kondisi kronis sekaligus.
Di tengah kondisi tersebut, industri asuransi tetap menunjukkan pertumbuhan positif.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan aset industri asuransi dapat meningkat sekitar 5-7 persen pada 2026.
Namun pertumbuhan tersebut dihadapkan pada tantangan besar, yakni inflasi medis yang diperkirakan mencapai 17,8 persen pada tahun yang sama, salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara.
Kenaikan biaya kesehatan yang jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan ekonomi inilah yang membuat pengelolaan industri asuransi harus dilakukan secara hati-hati.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
UNU Kaltim Bangun Kampus Berdampak Lewat Penguatan Publikasi Ilmiah
-
Bangunan Miring dan Plafon Pernah Runtuh, SDN 002 Anggana Butuh Perhatian Pemerintah
-
ASN di Samarinda Tewas Dalam Kamar Kosnya, Sempat Mengeluh Telepon Istri
-
BRIvolution Reignite Perkuat Kinerja BRI dan Berikan Dampak Bagi Perekonomian Rakyat
-
Pembagian Seragam Gratis Pemprov Kaltim Terlambat, Orangtua Terpaksa Beli Dulu