Eko Faizin
Sabtu, 14 Maret 2026 | 12:31 WIB
Ilustrasi Gedung Prudential. [Ist]
Baca 10 detik
  • Prudential menyampaikan jika industri asuransi kesehatan menghadapi tantangan kompleks.
  • Sejumlah negara tengah mengalami kenaikan biaya rumah sakit dan obat-obatan.
  • Di tengah kondisi tersebut, industri asuransi tetap menunjukkan pertumbuhan positif.

SuaraKaltim.id - Industri asuransi kesehatan di berbagai negara saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Di tengah dinamika ekonomi global, perubahan kebutuhan masyarakat, serta melonjaknya biaya layanan kesehatan, perusahaan asuransi dituntut menjaga keseimbangan antara perlindungan bagi nasabah dan keberlanjutan bisnis.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia.

Sejumlah negara di Asia seperti Singapura, Hong Kong, India, hingga Thailand mengalami kenaikan biaya rumah sakit dan obat-obatan yang jauh melampaui inflasi umum.

Kondisi serupa juga terjadi di Eropa dan Amerika Serikat, di mana populasi yang semakin menua dan meningkatnya penyakit kronis seperti diabetes serta penyakit jantung membuat klaim kesehatan terus meningkat.

Selain itu, kemajuan teknologi medis dan terapi terbaru memang memberikan peluang perawatan yang lebih baik bagi pasien.

Namun di sisi lain, inovasi tersebut turut mendorong kenaikan biaya pengobatan.

Indonesia menghadapi tren yang tidak jauh berbeda.

Berdasarkan data survei kesehatan dasar Direktorat Jenderal Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, prevalensi penyakit tidak menular di Indonesia terus meningkat setiap tahun.

Pada 2024, jumlah kasus penyakit kritis tercatat naik sekitar 11 persen, dari 29,7 juta menjadi 33 juta kasus.

Artinya, satu dari tiga orang dewasa di Indonesia berpotensi mengalami lebih dari satu kondisi kronis sekaligus.

Di tengah kondisi tersebut, industri asuransi tetap menunjukkan pertumbuhan positif.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan aset industri asuransi dapat meningkat sekitar 5-7 persen pada 2026.

Namun pertumbuhan tersebut dihadapkan pada tantangan besar, yakni inflasi medis yang diperkirakan mencapai 17,8 persen pada tahun yang sama, salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara.

Kenaikan biaya kesehatan yang jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan ekonomi inilah yang membuat pengelolaan industri asuransi harus dilakukan secara hati-hati.

Load More