-
Penyakit pembuluh darah kini banyak menyerang usia produktif, bukan lagi dominan pada lansia, akibat pola hidup tidak sehat dan konsumsi gula berlebih.
-
dr Suhartono menekankan pentingnya deteksi dini dan penanganan modern, di mana prosedur minimal invasif seperti angioplasti dan stent membuat perawatan lebih aman, cepat, dan minim risiko.
-
Keterbatasan alat medis impor dan minimnya dokter bedah vaskular menjadi tantangan besar, sementara pencegahan sederhana seperti olahraga, pola makan seimbang, dan berhenti merokok tetap menjadi kunci menjaga kesehatan pembuluh darah.
SuaraKaltim.id - Pergeseran pola penyakit pembuluh darah kini menjadi perhatian serius dunia medis. dr Suhartono, dokter ahli bedah pembuluh darah, menyoroti bahwa gangguan vaskular kini banyak menyerang kelompok usia produktif akibat gaya hidup tidak sehat dan konsumsi gula berlebihan.
“Kalau dulu pasien kami rata-rata usia 60 ke atas, sekarang banyak yang datang di usia 40-an. Ini alarm bagi kita semua,” ujarnya di Balikpapan pertengahan pekan ini, dikutip dari ANTARA, Minggu, 2 November 2025.
Fenomena ini menunjukkan bahwa penyakit pembuluh darah tak lagi identik dengan usia lanjut.
“Kalau sumbatan terjadi di kaki, bisa berujung luka yang tidak sembuh dan berakhir amputasi. Jadi ini bukan hanya gangguan aliran darah, tapi bisa memengaruhi kualitas hidup,” tambahnya.
Menurut dr Suhartono, kemajuan teknologi kedokteran kini memungkinkan penanganan yang lebih aman dan efisien melalui prosedur minimal invasif, seperti balon angioplasti dan stent.
“Nyeri lebih ringan, masa rawat lebih singkat, dan risiko komplikasi jauh lebih rendah dibanding operasi terbuka,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan sejumlah inovasi medis terkini, termasuk EVAR dan TEVAR untuk menangani aneurisma, serta laser dan radiofrequency ablation (RFA) bagi pasien varises dan trombosis vena dalam.
Rumah sakit tempatnya bertugas juga menangani pasien hemodialisis melalui pembuatan saluran khusus atau fistula/graft.
Meski begitu, dr Suhartono mengakui bahwa tantangan biaya dan ketersediaan sumber daya manusia masih menjadi hambatan besar.
Baca Juga: Kaltim Pimpin Transaksi Digital di Kalimantan, Nilai QRIS Tembus Rp 5,9 Triliun
Banyak alat medis masih bergantung pada impor dan bersifat sekali pakai, sementara jumlah dokter bedah vaskular di Indonesia baru sekitar 120 orang, jauh dari kebutuhan ideal ribuan tenaga untuk melayani seluruh populasi.
“Ini tantangan kita bersama untuk pemerataan layanan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti perlunya peran media dalam memperluas literasi kesehatan masyarakat.
“Pencegahan bisa dimulai dari hal sederhana: olahraga, makan seimbang, berhenti merokok, dan rutin cek tekanan darah,” pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
- Link Resmi Pandang.istanapresiden.go.id buat Daftar Upacara Bendera HUT RI di Istana Negara
Pilihan
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
Terkini
-
BRI Dukung Penempatan Dana SAL, Perkuat Likuiditas dan Kredit Produktif
-
UNU Kaltim Bangun Kampus Berdampak Lewat Penguatan Publikasi Ilmiah
-
Bangunan Miring dan Plafon Pernah Runtuh, SDN 002 Anggana Butuh Perhatian Pemerintah
-
ASN di Samarinda Tewas Dalam Kamar Kosnya, Sempat Mengeluh Telepon Istri
-
BRIvolution Reignite Perkuat Kinerja BRI dan Berikan Dampak Bagi Perekonomian Rakyat