-
Sekitar 40 pemilik lahan di Jalan Abdi Negara menuntut kejelasan ganti rugi, karena jalan sepanjang tiga kilometer itu dibangun dan digunakan tanpa pembayaran dan tanpa pemberitahuan kepada mereka.
-
Pemkot Bontang menyatakan pembangunan sudah sesuai prosedur dan meminta warga menunjukkan dokumen sah, bahkan menyarankan penyelesaian melalui jalur hukum agar ada dasar penganggaran jika pemerintah dinyatakan kalah.
-
Upaya mediasi hingga aksi warga belum membuahkan hasil, sementara pemilik lahan mengaku tidak pernah diberi informasi sebelum pembangunan dan menilai komunikasi pemerintah sangat minim.
SuaraKaltim.id - Sengketa lahan di sepanjang Jalan Abdi Negara, Teluk Kadere, Kelurahan Bontang Lestari, kembali mencuat setelah para pemilik tanah menagih kepastian pembayaran dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang.
Jalan yang kini menjadi akses vital itu dibangun di atas tanah warga, namun proses penyelesaiannya tak kunjung menemukan titik terang.
Berbagai langkah telah ditempuh masyarakat dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari mediasi yang digelar Komisi III DPRD Bontang hingga aksi penutupan jalan oleh warga.
Namun, penyelesaian ganti rugi tetap mandek.
Kepala Dinas PUPR Bontang, H. Much. Cholis Edy Prabowo, menyebut persoalan ini sudah berlangsung lama.
Ia mengklaim pembangunan jalan tersebut dilakukan sesuai prosedur dan meminta warga untuk menunjukkan dokumen kepemilikan yang sah.
“Kalau sudah ada itu semua, pemerintah kota (Pemkot) Bontang bisa menganggarkan,” katanya, kepada SuaraKaltim.id, Selasa 25 November 2025.
Cholis juga mendorong agar pemilik lahan membawa perkara ini ke jalur hukum agar memiliki dasar yang lebih kuat.
“Kalau kita melalui persidangan, sudah pasti jelas ini. Kalau nanti misalnya Pemkot Bontang dinyatakan kalah di tingkat kasasi, maka, putusan tersebut bisa digunakan sebagai dasar untuk penganggarannya,” katanya lagi.
Baca Juga: Lapangan Warga Jadi Sumber Sengketa: Turap Probebaya Dipersoalkan
Jalan selebar 12 meter dan panjang sekitar tiga kilometer itu telah lama digunakan, namun sekitar 40 pemilik lahan bersertifikat mengaku belum menerima ganti rugi.
Salah satu pemilik lahan, HM Arif AR, menyebut dirinya tak pernah diinformasikan mengenai pembangunan proyek tersebut.
“Saya tidak tahu apa-apa. Ketua RT juga tidak pernah ada yang hubungi saya. Beberapa tahun lalu, saat saya ke sini (Teluk Kadere) untuk melihat tanah saya, saya kaget. Ternyata sudah ada jalan aspal,” katanya beberapa waktu lalu.
Arif menjelaskan, ia pernah dimintai izin hanya untuk pembangunan jalan setapak selebar tiga meter oleh ketua RT saat itu, Usman.
Namun kenyataan di lapangan jauh berbeda.
“Saat itu, saya setuju. Karena bilangnya, kasihan masyarakat yang rumahnya agak dalam. Supaya bisa dapat akses jalan. Tetapi, kenapa saat saya datang, yang ada malah besar sekali. Menjadi 12 meter,” ungkapnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
37 Orang Diamankan Terkait Pencurian Kabel Telkom di Samarinda, 4 Ditetapkan Tersangka
-
Karhutla 20 Hektare di Samarinda, Api Tinggal 20 Meter dari Asrama Yonzipur
-
Karhutla Kaltim Tembus 9.500 Hektare dalam 3 Bulan, Kabut Asap Masih Mengancam
-
Karhutla Kalimantan: Polri Terjunkan 200 Brimob, 10 Anggota Bareskrim ke Kaltim-Kalteng
-
Sudah Terjadi Sejak 2009, Warga Berau Geram Pemadaman Listrik Kembali Berlanjut