- JATAM Kaltim menyoroti daerah aliran sungai dengan lubang tambang di Berau.
- Lubang pertambangan batu bara terlihat lebih dalam dari daerah aliran sungai (DAS).
- Kedekatan antara tambang dan aliran sungai menghadirkan ancaman dua arah.
Kejadian itu kemudian tercatat sebagai salah satu banjir terbesar di Kabupaten Berau dalam dua puluh tahun terakhir.
Menanggapi temuan terbaru, Jaringan Advokasi Tambang Kalimantan Timur (JATAM Kaltim) menilai kondisi di DAS Sungai Kelai saat ini menunjukkan ancaman nyata.
Dinamisator JATAM Kaltim, Mustari Sihombing, menyampaikan pandangan tersebut melalui pernyataan pers tertulis.
“Dampak aktivitas pertambangan batubara di Kabupaten Berau hari ini bukan lagi sekadar persoalan pencemaran air atau sedimentasi sungai, melainkan telah mencapai tingkat yang jauh lebih mengkhawatirkan,” ujar Mustari dalam pernyataan tertulisnya.
Ia menyinggung visual lubang tambang di DAS Kelai yang kedalamannya melebihi aliran Sungai Kelai dan menjadi perhatian publik setelah viral di media sosial.
Menurut Mustari, kondisi itu mencerminkan ancaman serius yang tidak bisa dianggap sepele.
“Ini dapat dibuktikan lewat data overlay yang menunjukkan terdapat 94 konsesi tambang yang beroperasi di Kabupaten Berau, dari jumlah tersebut terdapat tujuh konsesi berada di wilayah hulu dan tengah DAS Kelai,” ujarnya.
Mustari menyebut Kabupaten Berau sebagai salah satu daerah dengan kepadatan izin tambang batu bara tertinggi di Kaltim. Ia menilai aktivitas pertambangan telah mengubah bentang alam secara masif.
“Hutan dibabat, tanah dikeruk hingga puluhan meter, dan lubang lubang tambang dibiarkan menganga tanpa pemulihan memadai,” katanya.
Menurutnya, Sungai Kelai memegang peran vital sebagai penyangga kehidupan masyarakat Berau, mulai dari sumber air baku, jalur transportasi, hingga penopang ekosistem masyarakat adat dan kampung-kampung di sepanjang aliran sungai. Ketika lubang tambang lebih dalam dari sungai, risiko ekologis yang ditanggung wilayah tersebut menjadi semakin besar.
“Ketika lubang tambang lebih dalam dari badan sungai, maka secara ekologis wilayah ini sedang dipaksa menampung risiko besar, perubahan aliran air tanah, kerentanan longsor, hingga potensi jebolnya struktur tanah saat curah hujan tinggi,” jelasnya.
JATAM Kaltim mencatat bahwa lubang-lubang tambang kini berfungsi layaknya perangkap bencana.
Mustari menjelaskan bahwa ketika hujan deras, air dari wilayah hulu tidak lagi tertahan oleh tutupan hutan.
“Air langsung mengalir membawa lumpur, sedimen, dan limbah tambang ke Sungai Kelai,” lanjutnya.
Dampaknya, pendangkalan Sungai Kelai semakin parah, debit air meningkat, dan banjir berulang menjadi ancaman tahunan bagi warga di sepanjang aliran sungai.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
37 Orang Diamankan Terkait Pencurian Kabel Telkom di Samarinda, 4 Ditetapkan Tersangka
-
Karhutla 20 Hektare di Samarinda, Api Tinggal 20 Meter dari Asrama Yonzipur
-
Karhutla Kaltim Tembus 9.500 Hektare dalam 3 Bulan, Kabut Asap Masih Mengancam
-
Karhutla Kalimantan: Polri Terjunkan 200 Brimob, 10 Anggota Bareskrim ke Kaltim-Kalteng
-
Sudah Terjadi Sejak 2009, Warga Berau Geram Pemadaman Listrik Kembali Berlanjut