Eko Faizin
Kamis, 07 Mei 2026 | 15:22 WIB
DPMPTSP Kota Bontang, Kalimantan Timur mencatat realisasi investasi mencapai Rp3,08 triliun. [Ist]
Baca 10 detik
  • Realisasi investasi Kota Bontang 2025 mencapai Rp3,08 triliun.
  • Kinerja tersebut melampaui target dan menunjukkan tren positif.
  • Capaian itu meningkat 13,66 persen dibanding tahun sebelumnya.

Masuknya investasi pada sektor properti dan hospitality menandakan adanya perkembangan ekonomi di luar sektor industri berat.

Bontang yang selama ini dikenal sebagai kota industri mulai memperlihatkan potensi pertumbuhan sektor jasa dan pendukung perkotaan.

Pertumbuhan hotel dan restoran misalnya, tidak dapat dilepaskan dari meningkatnya mobilitas tenaga kerja, aktivitas bisnis, hingga kebutuhan penunjang industri di daerah tersebut. Kondisi itu memperlihatkan bahwa aktivitas ekonomi di Bontang mulai bergerak lebih luas.

Sementara pada PMDN, sektor industri pengolahan mendominasi struktur investasi. Industri kimia dasar, barang kimia, dan farmasi menjadi penyumbang terbesar dengan porsi mencapai 85,96 persen.

Setelah itu disusul sektor perdagangan dan reparasi sebesar 5,18 persen, industri logam dasar dan barang logam bukan mesin sebesar 3,16 persen, usaha jasa lainnya sebesar 2,32 persen, serta hotel dan restoran sebesar 1,12 persen.

Besarnya kontribusi industri kimia memperlihatkan bahwa Bontang masih sangat bergantung pada sektor industri pengolahan. Hal ini sejalan dengan keberadaan sejumlah industri besar yang telah lama beroperasi di kota tersebut dan menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

Selain didukung industri besar, ekosistem penunjang seperti logistik, jasa perdagangan, hingga sektor pendukung lainnya turut memperkuat daya tarik investasi Bontang.

Infrastruktur kawasan industri dan posisi geografis yang strategis di Kalimantan Timur juga menjadi faktor penunjang.

Meski investasi tumbuh signifikan, distribusinya antarwilayah di Bontang masih belum merata. DPMPTSP mencatat mayoritas investasi terkonsentrasi di Kecamatan Bontang Utara dengan nilai mencapai Rp1,17 triliun atau sekitar 98,94 persen dari total investasi.

Sementara itu, investasi di Bontang Barat tercatat Rp9,36 miliar atau 0,79 persen. Adapun Bontang Selatan hanya memperoleh investasi Rp3,20 miliar atau sekitar 0,27 persen.

Konsentrasi investasi di Bontang Utara memperlihatkan kawasan tersebut masih menjadi pusat utama aktivitas ekonomi dan industri. Di sisi lain, wilayah lain dinilai masih memiliki ruang pengembangan yang cukup besar.

Ketimpangan distribusi investasi itu menjadi salah satu pekerjaan rumah pemerintah daerah. Sebab, pemerataan investasi dinilai penting untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan mengurangi kesenjangan antarwilayah.

Muhammad Aspian Nur mengatakan pemerintah daerah tidak hanya berfokus mengejar angka investasi, tetapi juga kualitas dan pemerataan investasi di seluruh wilayah kota.

"Kami tidak hanya fokus pada peningkatan angka investasi, tetapi juga pada kualitas dan pemerataan investasi. Ke depan, kami akan memperkuat promosi potensi wilayah serta meningkatkan pelayanan perizinan yang lebih cepat, transparan, dan terintegrasi," jelasnya.

Menurut dia, penguatan sistem pelayanan perizinan menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kepercayaan investor.

Load More